Skip to main content

Bahagia Dalam Keheningan, Adi W. Gunawan.

Seorang klien datang ke saya untuk minta tolong. Masalah klien ini yaitu dia merasa hidupnya saat ini hampa. Padahal ia bukan orang sembarangan. Telah banyak yang ia capai dalam hidupnya. Karir dan bisnisnya cemerlang. Keluarganya juga sangat ok. Terus, apa yang salah dengan klien ini?

Setelah berdikusi beberapa saat saya menemukan apa yang menjadi akar masalahnya. Ternyata ia jarang memberikan waktu untuk dirinya sendiri. Pikirannya terlalu aktif. Keinginannya banyak dan ia ingin mencapainya sekaligus sehingga ia merasa ada tekanan yang sangat tinggi.

Apa yang saya sarankan untuk ia lakukan? Mudah. Saya hanya minta klien ini melakukan meditasi setiap pagi sekitar 30 menit.

Waktu mendengar saran ini reaksinya adalah, “Lho, kok meditasi? Saya justru merasa kalau waktu saya ini sangat kurang. Saya berharap kalau bisa satu hari bukan 24 jam tapi 30 jam”.

Pembaca, mengapa saya menyarankan klien ini melakukan meditasi?

Alasannya begini. Saat kita (sangat) sibuk maka pikiran kita sangat aktif. Aktifnya pikiran tentu akan sangat menguras energi (psikis) kita. Pikiran yang aktif ini membuat tungku mental kita panas. Belum lagi emosi atau mood yang kurang kondusif akibat tekanan pekerjaan. Semua ini membuat diri kita lemah.

Jika diibaratkan gelas yang berisi air dan ada partikel atau pasir di dalamnya maka saat pikiran aktif yang kita lakukan adalah kita mengaduk-aduk isi gelas. Apa yang terjadi? Isi gelas akan menjadi keruh karena pasir akan naik .

Saat kita bermeditasi maka sebenarnya yang kita lakukan adalah mendiamkan isi gelas (baca: pikiran) dan memberikan waktu pasir untuk turun dan mengendap. Setelah itu air akan menjadi bening dan jernih. Saat itu pikiran kita menjadi segar dan kuat.

“Lho, bukankah untuk membuat pikiran kuat kita perlu sering-sering menggunakannya?”

Inilah pemahaman yang kurang tepat yang diyakini kebanyakan orang. Untuk membuat pikiran kuat maka kita perlu melatihnya. Melatih pikiran tidak sama dengan melatih otot tubuh. Ajahn Chah, guru meditasi dan spiritual yang sangat luar biasa, pernah berkata, “Menguatkan pikiran tidak dapat dilakukan dengan menggerakkannya seperti menguatkan tubuh , tetapi dengan membuatnya diam, beristirahat, tenang, dan hening.”

Mengapa kita perlu hening?

Ada sangat banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Saat hening sebenarnya kita mengistirahatkan pikiran dan melakukan charging aki psikis kita. Saat aki psikis kita terisi penuh, fully charged, maka menjadi tenang, dan pengendalian diri kita meningkat.

Saat aki psikis “penuh” maka kita tidak akan mudah goyah atau terprovokasi dengan berbagai kejadian yang kita alami. Ibarat sebuah gentong yang terisi penuh oleh air maka tidak akan mudah untuk bisa menggoyang gentong ini. Namun bila gentongnya kosong siapa saja akan sangat mudah menggoyang dan kalau perlu menggulingkan gentong ini.

Anda mungkin bertanya, “Pak, maksudnya “penuh” itu seperti apa?”

Nah, ini yang saya nggak bisa jelaskan karena anda perlu mengalaminya sendiri. Saat anda melakukan meditasi maka anda pasti akan bisa merasakan apa yang saya maksudkan. Saat kita “penuh” maka kita akan merasa puas dan nyaman.

Saat pikiran hening kita bisa melakukan sangat banyak hal. Stillness speaks. Ibu Teresa menggambarkan keheningan dan hubungannya dengan spiritualitas dengan pernyataan,”Tuhan adalah sahabat keheningan. Lihat bagaimana alam – tanaman, rumput tumbuh dalam keheningan; lihat bintang-bintang, bulan, dan matahari, bagaimana mereka bergerak dlaam keheningan. Kita butuh keheningan untuk menyentuh jiwa”.

Meditasi tidak hanya memberikan efek positif untuk diri kita namun juga untuk orang-orang di sekitar kita. Saat kita tenang, hening, dan damai maka kita akan menyebarkan vibrasi energi positif yang luar biasa. Dan sesuai dengan hukum LOA, likes attract likes, saat vibrasi energi kita positif maka kita akan menarik hal-hal, kejadian, situasi, orang, keadaan, sumber daya, atau apapun yang serupa dengan vibrasi kita.

Efek positif lainnya adalah bila kita sering bermeditasi dan berada di gelombang theta dan khususnya delta maka power kita akan meningkat luar biasa. Saya mendapat informasi ini dari Tom Silver saat saya belajar langsung dengannya. Saya bisa merasakan kharisma dan power yang ia pancarkan ke sekelilingnya. Saat saya bertanya, “Tom, how can you be so powerful?” Dengan tersenyum ia berkata, “The secret is in your delta. The higher amplitude of your delta, the more power you have.”

Wow… ini baru informasi berharga. Dan hal ini benar adanya. Saya sempat bertanya pada seorang kawan, yang kebetulan juga seorang pembicara publik dari Jakarta, “Pak, apa yang membedakan presentasi anda dengan rekan pembicara lain? Saya melihat materi anda sebenarnya bisa dibawakan oleh orang lain. Namun herannya efek yang anda ciptakan sangat berbeda dan lebih powerful, membekas di hati, dan sungguh luar biasa. Apa rahasianya?”.

Rekan ini dengan tersenyum dan berbisik, “Sstt… saya selalu melakukan “charging.” “Maksudnya?” kejar saya lagi. “Saya mendapat power yang luar biasa saat diam dalam hening. Ini saya lakukan setiap pagi” jawabnya.

Lalu, bagaimana kita melakukan meditasi?

Ada banyak cara melakukan meditasi. Meditasi adalah kondisi kesadaran, bukan teknik. Apapun teknik yang digunakan tidak penting. Yang penting adalah kita bisa masuk ke kondisi meditatif. Inilah yang saya pelajari dari Anna Wise.

Ada 40 objek yang bisa digunakan untuk meditasi. Dalam kesempatan ini saya menyarankan anda untuk menggunakan objek pikiran anda sendiri yaitu dalam bentuk imajinasi.

Berikut cara anda melakukan meditasi:
• Sediakan waktu untuk hening selama sekitar 30 menit.
• Pastikan anda tidak terganggu selama meditasi. Matikan HP atau telpon. Bermeditasilah di ruang yang tenang dan nyaman.
• Ambil posisi duduk yang nyaman. Tidak harus dalam posisi bersila. Lebih baik jika anda duduk santai di kursi, kaki menapak lantai, dan punggung anda bersandar.
• Putar musik lembut (jika ini bisa membuat anda lebih rileks).
• Tutup mata dan ciptakan suasana atau pemandangan alam yang sangat anda sukai. Tempat yang pernah anda kunjungi atau yang ingin anda kunjungi. Beradalah di tempat ini seorang diri dan rasakan perasaan nyaman, tenang, damai, dan bahagia. Gunakan semua indera anda untuk mengalaminya.
• Nikmati suasana ini selama yang anda inginkan.
• Jika sudah dirasa cukup, keluarlah dari kondisi meditasi dengan perasaan nyaman, damai, dan bahagia.

Kembali pada klien saya. Setelah melakukan saran saya dua hari kemudian ia mengirim sms yang berbunyi, “Selamat pagi Pak Adi. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa metode meditasi sederhana yang bapak ajarkan benar-benar dahsyat. It works. I mean it really works. So simple, so easy, and so effective. Sejak melakukan hal ini segala sesuatu di sekeliling saya tampak berubah begitu ramah, menyenangkan, dan enak tenan. Salam hangat…..”

So pembaca, bermeditasilah setiap pagi, minimal 30 menit. Masuklah ke dalam diri dan alami hal luar biasa yang tidak akan pernah bisa anda dapatkan di luar diri.

Artikel telah disadur kembali oleh:
Joko Hamdani as Sejarawan Hamdina
024-7060.9694
D'professional historian with excellent entrepreneur skill.

Comments

Popular posts from this blog

Krisis ekonomi 1930-an

HAMPIR sepanjang tiga dasawarsa pertama abad ke-20 ekonomi dunia tumbuh pesat. Optimisme sangat besar juga di Indonesia (Hindia Belanda pada masa itu). Tetapi ternyata krisis datang dengan tiba-tiba menjelang akhir 1929, dan akan berlangsung selama bertahun-tahun. Biarpun sejak 1937 ada perbaikan namun sebenarnya baru Perang Dunia II yang mengakhiri zaman depresi.

Sejak mula, perkebunan Indonesia, sebagai penghasil ekspor, sangat sensitif terhadap naik turunnya pasaran dunia. Dalam abad ke-19 hasil ekspor yang terbesar adalah gula dan kopi, khususnya dari Jawa. Gula, kata orang, adalah laut tempat Pulau Jawa mengapung. Dialah soko guru kemakmuran ekonominya. Tetapi dalam abad ke-20, dengan saingan dari Brazil, yang menanam kopi, dan Filipina dan Kuba yang mengembangkan perkebunan gula, serta dimajukannya pembuatan gula biet di Eropa, arti gula sebagai bahan ekspor merosot. Ekspor gula ini kemudian jatuh sama sekali dan hilang arti…

Fiat Money tanpa Standar Emas

Meninggalkan Standar Emas Adalah Kesalahan Fatal Yang Harus Kita TanggungOleh Edmund ConwayPada hari Senin pagi kita sudah berhasil bertahan hidup selama empat dekade dengan fiat money (*) - meskipun, mengingat kekacauan yang terjadi di pasar dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang menebak-nebak berapa lama lagi hal ini akan bisa bertahan.Pada tanggal 15 Agustus 1971, saat keuangan publik Amerika terhambat karena biaya perang Vietnam, Presiden Richard Nixon akhirnya memotong kaitan antara dolar AS dan emas. Sampai saat itu, Departemen Keuangan AS berkewajiban untuk menukar satu ons emas dimana Bank Sentral bersedia untuk membayarnya seharga $ 35.Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat mata uang dunia tidak bergantung pada nilai emas atau komoditas lain yang nyata tapi pada tingkat kepercayaan yang dimiliki investor pada mata uang itu. Bank Sentral diizinkan untuk menetapkan kebijakan moneter berdasarkan naluri mereka daripada pada kebutuhan untuk menjaga …

Olahraga Sekaligus Piknik di Tian Tan Buddha

Setelah beberapa kali pergi ke Hong Kong, saya akhirnya berkesempatan mengunjungi Tian Tan Buddha, sebuah patung Buddha terbesar di Hong Kong yang terletak di Ngong Ping, Pulau Lantau. Patung ini merupakan salah satu tempat wajib yang dikunjungi turis.

(Mengapa baru sekarang? Bukan apa-apa, minat saya sih ada tetapi kadang sering kalah oleh nafsu berbelanja di Hong Kong. Apalagi, kalau menginap di Kowloon. Yah, bawaan kaki pasti menelusuri Nathan Road dan Harbor Front).


Patung Buddha raksasa Tian Tan.

Salah satu hal yang menunda niat saya mengunjungi Tian Tan adalah lokasinya yang cukup jauh sehingga tidak bisa sekali naik dengan kereta bawah tanah. Perlu sekitar 35 menit dari stasiun Hong Kong ke stasiun Tung Chung. Dan setelah turun dari stasiun kereta Tung Chung, mesti meneruskan dengan transportasi lain.

Jika kantong tebal, bisa memilih kereta gantung dengan waktu tempuh sekitar 25 menit. Tetapi, kalau keuangan terbatas (seperti saya waktu itu), bisa naik bus (NLB) sel…