Skip to main content

Sukses Dengan Bertindak Cepat ^_^

“Cara, peraturan, dan kemampuan sering dapat mengalahkan musuh. Sebenarnya yang selalu membuat mereka menang karena mereka lebih dulu mengetahui informasi mengenai situasi.”
~ Sun Tzu’s Art of War

“Lebih cepat lebih baik”. Kita tentu sangat mengenal jargon tersebut. Ya, jargon yang diusung oleh Jusuf Kalla dalam pilpres Juli 2009 mendatang bisa kita jadikan pegangan dalam melakukan tindakan atau usaha-usaha kita. Saya tidak sedang berkampanye apalagi menyuruh Anda untuk mendukungnya. Sama sekali tidak! Terus terang saya sudah punya pilihan sendiri, hehe.

Sampai di mana tadi? O ya, lebih cepat lebih baik. Bertindak cepat dalam usaha di bidang apapun akan memberikan kita kemenangan. Anehnya, kita sering menutup jalur-jalur sukses kita sendiri dengan bertindak sangat lambat. Lambat berpikir,lambat belajar, lambat mencari, lambat merebut peluang dan sebagainya. Sehingga kita sendiri hanya melongo karena didahului oleh orang lain. Kata-kata “andai saja” pun kerap terucapkan disamping mencari-cari alasan pembenaran untuk tindakannya yang lambat itu sebagai pelipur lara.

Lagi, ada kisah dari negeri tirai bambu yang bisa kita adopsi untuk kita terapkan dalam menjalani usaha-usaha kita di bidang apapun. Konon pada jaman Northern Wei, tersebutlah laki-laki bernama Liu Bao. Dia adalah seorang pedagang daging di pasar tradisional. Usahanya sangat menguntungkan sehingga ia bisa menyimpan uangnya untuk memperluas lagi usahanya. Sadar bahwa kemajuan didapat dengan kecepatan informasi maka suatu hari ia membangun kantor pusat informasi di tengah kota. Sehingga ia akan sangat mudah dan cepat memperoleh informasi pasar yang membutuhkan. Ia akan segera mengetahui dengan cepat daerah mana yang membutuhkan padi karena kekeringan, maka ia mengirim padi. Demikian juga dengan daerah yang membutuhkan peralatan pertanian pasca banjir, ia pun membeli peralatan pertanian dengan harga murah di daerah lain kemudian menjualnya dengan harga tinggi di daerah yang sangat membutuhkan. Demikian seterusnya. Kecepatan informasi bisnis dan efisiensi manajemen sangat membantunya mendapatkan kekayaan dengan sangat cepat. Ia membeli beberapa properti dan menjualnya kembali dengan harga tinggi. Liu Bao pun menjadi sangat kaya raya.

So, kecepatan informasi apalagi kita kini hidup di era informasi akan sangat menentukan berkembang tidaknya usaha kita. Tidak ada kata terlambat. Mungkin selama ini kita terlalu lambat untuk bergerak karena ketakutan kita akan kegagalan atau keragu-raguan kita. Kita boleh saja takut dan ragu-ragu tetapi jangan sampai ketakutan dan keraguan itu membuat kita tidak bertindak sama sekali. Sebenarnya selama kita bertindak, kita tidak bisa disebut gagal meskipun hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Tetapi jika kita tidak bertindak sama sekali, sudah pasti kita gagal.

Selama kita bertindak, jika hasilnya masih nihil, kita tentu akan memperoleh pengalaman yang akan kita jadikan pembelajaran ke depan. Kita tentu akan menganalisa ulang apakah cara yang kita tempuh itu kurang tepat, sehingga kita akan mencari lagi cara lain untuk mencapai tujuan kita. Dengan demikian “kegagalan” akan menjadi kata yang tidak penting dalam kehidupan kita jika kita menganggap kegagalan itu “tidak ada” selama kita bertindak. Dan “kegagalan” akan menjadi kata terpenting dalam kehidupan kita jika kegagalan itu kita jadikan ajang pembelajaran. Tentu, bertindak saja belum cukup jika kita tidak cepat dalam melakukannya. Apalagi informasi akan peluang yang sudah kita dapatkan akan sia-sia jika kita tidak bertindak cepat. Lebih cepat memang lebih baik. Masalah bisa belakangan untuk kita analisa ulang.

Demikiankah?

Artikel telah disadur kembali oleh:
Joko Hamdani as Sejarawan Hamdina
024-7060.9694
D'professional historian with excellent entrepreneur skill.

Comments

Popular posts from this blog

Krisis ekonomi 1930-an

HAMPIR sepanjang tiga dasawarsa pertama abad ke-20 ekonomi dunia tumbuh pesat. Optimisme sangat besar juga di Indonesia (Hindia Belanda pada masa itu). Tetapi ternyata krisis datang dengan tiba-tiba menjelang akhir 1929, dan akan berlangsung selama bertahun-tahun. Biarpun sejak 1937 ada perbaikan namun sebenarnya baru Perang Dunia II yang mengakhiri zaman depresi.

Sejak mula, perkebunan Indonesia, sebagai penghasil ekspor, sangat sensitif terhadap naik turunnya pasaran dunia. Dalam abad ke-19 hasil ekspor yang terbesar adalah gula dan kopi, khususnya dari Jawa. Gula, kata orang, adalah laut tempat Pulau Jawa mengapung. Dialah soko guru kemakmuran ekonominya. Tetapi dalam abad ke-20, dengan saingan dari Brazil, yang menanam kopi, dan Filipina dan Kuba yang mengembangkan perkebunan gula, serta dimajukannya pembuatan gula biet di Eropa, arti gula sebagai bahan ekspor merosot. Ekspor gula ini kemudian jatuh sama sekali dan hilang arti…

Dome Of the Rock Itu bukan Al-Aqsa

Sebagian orang mungkin sering keliru membedakan antara Masjid Al-Aqsa dengan the Dome of the Rock (Kubah Batu Karang), dengan khas kuning keemasan. Orang sering menyangka bahwa the Dome of the Rock adalah Masjid Al-Aqsa. Jika diperhatikan dengan teliti peta keliling kawasan Haram As-Sharif secara seksama, kita akan dapat melihat sebuiah lagi kubah berwarna hijau yang kelihatan agak samar-samar. Percaytalah, kubah yang berwarna hijau itulah Masjid Al-Aqsa yang sebenarnya yang kini berada dalam wilayah cengkeraman Yahudi Israel.
Beberapa saat yang lalu, Dr. Marwan Saeed Saleh Profesor Matematika di Universitas Zayed Dubai pernah menulis peringatanj tentnang tipuan yahudi mengenai kubah masjid Al-Aqsa dengan kubah masjid Shakhra atau populer disebut the Dome of the rock (Kubah Batu Karang). Surat yang ditulis dan dimuat di Harian Al-Dastour itu antara lain menjelaskan bebrapa kekeliruan memahami Masjidil Aqsa dan The Dome of The Rock.
Sebagaimana diketahui, disekitar Haram AS-S…

Fiat Money tanpa Standar Emas

Meninggalkan Standar Emas Adalah Kesalahan Fatal Yang Harus Kita TanggungOleh Edmund ConwayPada hari Senin pagi kita sudah berhasil bertahan hidup selama empat dekade dengan fiat money (*) - meskipun, mengingat kekacauan yang terjadi di pasar dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang menebak-nebak berapa lama lagi hal ini akan bisa bertahan.Pada tanggal 15 Agustus 1971, saat keuangan publik Amerika terhambat karena biaya perang Vietnam, Presiden Richard Nixon akhirnya memotong kaitan antara dolar AS dan emas. Sampai saat itu, Departemen Keuangan AS berkewajiban untuk menukar satu ons emas dimana Bank Sentral bersedia untuk membayarnya seharga $ 35.Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat mata uang dunia tidak bergantung pada nilai emas atau komoditas lain yang nyata tapi pada tingkat kepercayaan yang dimiliki investor pada mata uang itu. Bank Sentral diizinkan untuk menetapkan kebijakan moneter berdasarkan naluri mereka daripada pada kebutuhan untuk menjaga …