Skip to main content

Indonesia Tidak Bisa Menarik Diri dari CAFTA

Refleksi : Tidak bisa berbeda dengan tidak mau. Agaknya Indonesia akan tetap menjadi negeri pengekspor bahan mentah dan hasil pertanian. Sektor manufaktur lemah, kalau datang manufatur luarnegeri akan tidak lain daripada berteknologi putar sekrup yang mempergunakan tenaga kerja murah, karena pada umumnya pendidikan di NKRI tidak berarah kejurusan demikian. Kelirukah asumsi demikian?

Manufaktur Punya Peluang Indonesia Tidak Bisa Menarik Diri dari CAFTA

Sabtu, 23 Januari 2010 | 03:07 WIB

Bogor, Kompas - Industri manufaktur berbasis sumber daya alam memiliki peluang besar merebut pasar China dalam Perjanjian Perdagangan Bebas China-ASEAN atau CAFTA. Selain meningkatkan devisa, industri itu juga menyerap banyak tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Hal tersebut terungkap dalam diskusi yang diselenggarakan Institut Pertanian Bogor dengan tema "Dampak CAFTA 2010 terhadap Pertanian Indonesia" di Bogor, Jumat (22/1).

Tampil sebagai pembicara, guru besar ekonomi dan industri pertanian IPB Endang Gumira Sa'id, Ketua Departemen Ilmu Ekonomi IPB Dedi Budiman Hakim, dan pakar perdagangan internasional IPB Rina Oktaviani.

Gumira mengungkapkan, industri yang harus digenjot terkait dengan CAFTA adalah pengolahan produk kelapa sawit, kakao, kopi, kertas dan bubur kertas, serta karet dan rotan.

"Industri perikanan juga memiliki peluang asal Indonesia mampu menekan pencurian ikan serta mengolah ikan tangkapan dalam negeri," ujar Gumira.

Untuk membangun industri manufaktur berbasis SDA nasional, diperlukan investasi besar. Dukungan infrastruktur transportasi, rantai pasok, serta listrik juga harus diberikan.

Gumira mengungkapkan, sejak 2004 hingga November 2009, Indonesia secara konsisten mengalami defisit neraca perdagangan dengan China.

Defisit terbesar 7,2 miliar dollar AS terjadi 2008. Pada saat itu ekspor China ke Indonesia naik 652 persen, sebaliknya Indonesia hanya 265 persen.

Dedi Budiman mengungkapkan, sejatinya liberalisasi sejumlah komoditas pertanian sudah mulai berlangsung sejak masuknya Dana Moneter Internasional (IMF) ke Indonesia.

Dorong investasi

Sementara itu , Rina mengatakan, dalam menghadapi CAFTA, Indonesia menghadapi tantangan untuk meningkatkan daya saing, tidak cukup mengandalkan keunggulan komparatif.

Strateginya dengan perbaikan iklim investasi di dalam negeri dan memperkuat kemampuan inteligen pasar internasional untuk menganalisis komoditas yang diminati konsumen luar negeri.

Juga diperlukan respons penawaran yang cepat dengan manajemen rantai pasokan efisien untuk memenuhi keinginan konsumen sesuai kualitas, waktu, harga, dan jumlah yang tepat.

Menurut Rina, upaya menarik diri dari Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China atau menerapkan hambatan nontarif kecil sekali kemungkinannya.

Jika menarik diri, itu akan berdampak buruk, kecuali Indonesia bisa memberikan argumen ilmiah yang dapat diterima.

Comments

Popular posts from this blog

Krisis ekonomi 1930-an

HAMPIR sepanjang tiga dasawarsa pertama abad ke-20 ekonomi dunia tumbuh pesat. Optimisme sangat besar juga di Indonesia (Hindia Belanda pada masa itu). Tetapi ternyata krisis datang dengan tiba-tiba menjelang akhir 1929, dan akan berlangsung selama bertahun-tahun. Biarpun sejak 1937 ada perbaikan namun sebenarnya baru Perang Dunia II yang mengakhiri zaman depresi.

Sejak mula, perkebunan Indonesia, sebagai penghasil ekspor, sangat sensitif terhadap naik turunnya pasaran dunia. Dalam abad ke-19 hasil ekspor yang terbesar adalah gula dan kopi, khususnya dari Jawa. Gula, kata orang, adalah laut tempat Pulau Jawa mengapung. Dialah soko guru kemakmuran ekonominya. Tetapi dalam abad ke-20, dengan saingan dari Brazil, yang menanam kopi, dan Filipina dan Kuba yang mengembangkan perkebunan gula, serta dimajukannya pembuatan gula biet di Eropa, arti gula sebagai bahan ekspor merosot. Ekspor gula ini kemudian jatuh sama sekali dan hilang arti…

Dome Of the Rock Itu bukan Al-Aqsa

Sebagian orang mungkin sering keliru membedakan antara Masjid Al-Aqsa dengan the Dome of the Rock (Kubah Batu Karang), dengan khas kuning keemasan. Orang sering menyangka bahwa the Dome of the Rock adalah Masjid Al-Aqsa. Jika diperhatikan dengan teliti peta keliling kawasan Haram As-Sharif secara seksama, kita akan dapat melihat sebuiah lagi kubah berwarna hijau yang kelihatan agak samar-samar. Percaytalah, kubah yang berwarna hijau itulah Masjid Al-Aqsa yang sebenarnya yang kini berada dalam wilayah cengkeraman Yahudi Israel.
Beberapa saat yang lalu, Dr. Marwan Saeed Saleh Profesor Matematika di Universitas Zayed Dubai pernah menulis peringatanj tentnang tipuan yahudi mengenai kubah masjid Al-Aqsa dengan kubah masjid Shakhra atau populer disebut the Dome of the rock (Kubah Batu Karang). Surat yang ditulis dan dimuat di Harian Al-Dastour itu antara lain menjelaskan bebrapa kekeliruan memahami Masjidil Aqsa dan The Dome of The Rock.
Sebagaimana diketahui, disekitar Haram AS-S…

Fiat Money tanpa Standar Emas

Meninggalkan Standar Emas Adalah Kesalahan Fatal Yang Harus Kita TanggungOleh Edmund ConwayPada hari Senin pagi kita sudah berhasil bertahan hidup selama empat dekade dengan fiat money (*) - meskipun, mengingat kekacauan yang terjadi di pasar dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang menebak-nebak berapa lama lagi hal ini akan bisa bertahan.Pada tanggal 15 Agustus 1971, saat keuangan publik Amerika terhambat karena biaya perang Vietnam, Presiden Richard Nixon akhirnya memotong kaitan antara dolar AS dan emas. Sampai saat itu, Departemen Keuangan AS berkewajiban untuk menukar satu ons emas dimana Bank Sentral bersedia untuk membayarnya seharga $ 35.Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat mata uang dunia tidak bergantung pada nilai emas atau komoditas lain yang nyata tapi pada tingkat kepercayaan yang dimiliki investor pada mata uang itu. Bank Sentral diizinkan untuk menetapkan kebijakan moneter berdasarkan naluri mereka daripada pada kebutuhan untuk menjaga …