Skip to main content

7 tahun kedepan ekonomi dunia akan lesu


ST GALLEN, KOMPAS.com — Kebutuhan atas program konsolidasi fiskal di negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat diperkirakan menyebabkan perekonomian dunia menjadi tidak produktif atau kurus. Hal ini terjadi karena dalam jangka panjang akan terjadi pengetatan fiskal yang akan menekan pertumbuhan ekonomi, sedangkan hasil dari pengetatan itu baru terasa dalam jangka panjang.

"Akan terjadi tujuh tahun ekonomi mengalami kelesuan," ujar Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schaeuble di ST Gallen, Swiss, saat menyampaikan paparan di University of ST Gallen, Minggu (28/8/2011).

Ia menegaskan periode kesakitan pada jangka pendek dan potensi keuntungan pada jangka panjang. Di antara kedua periode itulah terjadi tujuh tahun ekonomi yang lesu.
Menurut Schaeuble, dibutuhkan kerja sama erat di antara negara di Uni Eropa untuk mencegah kelesuan ekonomi itu. Namun, sebelum kerja sama itu bisa dilakukan secara efektif, dibutuhkan syarat yang harus dipenuhi.

"Sebelum kerja sama itu menjadi kenyataan, dibutuhkan konsolidasi fiskal dan reformasi struktural di Italia, Spanyol, Portugal, dan Yunani. Esensinya ada di situ," ungkapnya.

Awal pekan ini, Schaeuble bertemu rekan sejawatnya, Menteri Keuangan Perancis Francois Baroin, untuk membahas pemajakan atas transaksi keuangan. Jerman memang sedang mulai merintis beberapa kebijakan fiskal ketat, antara lain pengenaan pajak transaksi dan pelarangan transaksi short selling di bursa efek mereka.

Comments

Popular posts from this blog

Krisis ekonomi 1930-an

HAMPIR sepanjang tiga dasawarsa pertama abad ke-20 ekonomi dunia tumbuh pesat. Optimisme sangat besar juga di Indonesia (Hindia Belanda pada masa itu). Tetapi ternyata krisis datang dengan tiba-tiba menjelang akhir 1929, dan akan berlangsung selama bertahun-tahun. Biarpun sejak 1937 ada perbaikan namun sebenarnya baru Perang Dunia II yang mengakhiri zaman depresi.

Sejak mula, perkebunan Indonesia, sebagai penghasil ekspor, sangat sensitif terhadap naik turunnya pasaran dunia. Dalam abad ke-19 hasil ekspor yang terbesar adalah gula dan kopi, khususnya dari Jawa. Gula, kata orang, adalah laut tempat Pulau Jawa mengapung. Dialah soko guru kemakmuran ekonominya. Tetapi dalam abad ke-20, dengan saingan dari Brazil, yang menanam kopi, dan Filipina dan Kuba yang mengembangkan perkebunan gula, serta dimajukannya pembuatan gula biet di Eropa, arti gula sebagai bahan ekspor merosot. Ekspor gula ini kemudian jatuh sama sekali dan hilang arti…

Fiat Money tanpa Standar Emas

Meninggalkan Standar Emas Adalah Kesalahan Fatal Yang Harus Kita TanggungOleh Edmund ConwayPada hari Senin pagi kita sudah berhasil bertahan hidup selama empat dekade dengan fiat money (*) - meskipun, mengingat kekacauan yang terjadi di pasar dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang menebak-nebak berapa lama lagi hal ini akan bisa bertahan.Pada tanggal 15 Agustus 1971, saat keuangan publik Amerika terhambat karena biaya perang Vietnam, Presiden Richard Nixon akhirnya memotong kaitan antara dolar AS dan emas. Sampai saat itu, Departemen Keuangan AS berkewajiban untuk menukar satu ons emas dimana Bank Sentral bersedia untuk membayarnya seharga $ 35.Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat mata uang dunia tidak bergantung pada nilai emas atau komoditas lain yang nyata tapi pada tingkat kepercayaan yang dimiliki investor pada mata uang itu. Bank Sentral diizinkan untuk menetapkan kebijakan moneter berdasarkan naluri mereka daripada pada kebutuhan untuk menjaga …

Olahraga Sekaligus Piknik di Tian Tan Buddha

Setelah beberapa kali pergi ke Hong Kong, saya akhirnya berkesempatan mengunjungi Tian Tan Buddha, sebuah patung Buddha terbesar di Hong Kong yang terletak di Ngong Ping, Pulau Lantau. Patung ini merupakan salah satu tempat wajib yang dikunjungi turis.

(Mengapa baru sekarang? Bukan apa-apa, minat saya sih ada tetapi kadang sering kalah oleh nafsu berbelanja di Hong Kong. Apalagi, kalau menginap di Kowloon. Yah, bawaan kaki pasti menelusuri Nathan Road dan Harbor Front).


Patung Buddha raksasa Tian Tan.

Salah satu hal yang menunda niat saya mengunjungi Tian Tan adalah lokasinya yang cukup jauh sehingga tidak bisa sekali naik dengan kereta bawah tanah. Perlu sekitar 35 menit dari stasiun Hong Kong ke stasiun Tung Chung. Dan setelah turun dari stasiun kereta Tung Chung, mesti meneruskan dengan transportasi lain.

Jika kantong tebal, bisa memilih kereta gantung dengan waktu tempuh sekitar 25 menit. Tetapi, kalau keuangan terbatas (seperti saya waktu itu), bisa naik bus (NLB) sel…