Skip to main content

"Berapa Harga Secangkir Teh?"


  (Inspirasi cerita ini diambil dari sebuah blog yang memuat tulisan
mengenai value sebuah kaleng coke, dikisahkan dan dibumbui kembali
menurut versi sang penulis dalam judul "Berapa Harga secangkir Teh?")

Pada sebuah tempat pelatihan, sang guru memberikan tugas bagi
murid-murid barunya untuk menjawab sebuah pertanyaan sebelum mereka
dinyatakan lulus pada kelas tersebut. Dan pertanyaanya selalu berubah
dari satu angkatan dengan angkatan lainnya.

Kali ini guruitu bertanya "Berapa Harga Secangkir Teh ini?" katanya
sambil mencicipinya.

Murid pertama, langsung berkata "Paling-paling harganya dua ribu lima
ratus rupiah saja"

Sang guru lalu berkata "Ternyata nilaimu sampai hari ini hanya seharga
dua ribu lima ratus rupiah saja, sungguh disayangkan."

Sekarang giliran Murid ke-dua, kali ini ia berkata lebih diplomatis,
tapi dengan keyakinan penuh "Harganya pasti tergantung pada label dan
packaging-nya"

"Misalnya, kalau teh dengan merek A yang terkenal, nilainya akan
berbeda, nilainya akan lebih tinggi dari pada merek B yang dikenal
biasa-biasa saja (walau dibuat dari bahan dasar yang sama) dan kadang
harganya akan naik jika di-packaging dengan baik, dibuat lebih menarik" lanjutnya.

Sang guru lalu berkata "Setidaknya kamu lebih bernilai dibandingkan
temanmu yang pertama, tapi pengetahuanmu itu masih sebatas kulit saja,
belum cukup memuaskan."

Murid ke-tiga segera memutar otaknya, ia tak ingin mendapat penilaian
yang sama dengan teman-temannya tadi, sejenak ia terdiam memikirkan
jawaban terbaiknya,lalu berkata.

"Tempat, Harga secangkir teh ini tergantung tempatnya."

Sang guru lalu segera meresponnya "Maksudmu? Wadah tempat teh itu
ditempatkan atau tempat di mana teh tersebut dihidangkan?"

Mendapat tanggapan sang guru, murid ke-tiga seperti mendapat angin
surga, ia lalu dengan semangat memberikan argumentnya.

"Dua-duanya guru, kalau teh yang sama saya letakan di wadah yang lebih
baik, nilainya akan mengikuti wadah tersebut.Lalu, tempat penyajian
memegang peranan berarti, secangkir teh yang disajikan di warung, akan
berbeda dengan secangkir teh yang disajikan di restorant, berbeda lagi
dengan secangkir teh yang disajikan di cafe-cafe ternama, apalagi di
lobby hotel berbintang lima"

"Bagus, Pengetahuanmu sudah sampai ke bagian dalam, kamu sudah mulai
mengerti pokok permasalahan" puji sang guru.

Sang Guru segera mengarahkan pandangannya ke murid ke-empat, lalu dengan lembut murid ke-empat berkata,

"Harga secangkir teh ini tergantung cita rasanya"

"Teh yang diproduksi dengan baik, diproses dengan cermat akan
menghasilkan teh dengan cita rasa yang berkwalitas, yang nilainya pasti akan lebih tinggi, bahkan nilai teh akan bertambah hanya karena kita menambahkan beberapa tetes sari lemon"

"Bagus sekali, cita rasamu memang sudah menyentuh hati" kata sang guru.

Sekarang giliran murid terakhir, murid ke-lima, ia sempat kesulitan
mencari kata-kata yang indah, kamusnya seakan kehabisan ide, terpakai
oleh keempat temannya.

Akhirnya ia berkata,

"Terserah Kita"

Lalu Sang Guru mengacungkan jempol, "KAMU LULUS"

Jika, Secangkir teh itu adalah diri kita, Berapakah Harga yang pantas
untuk diri kita?

1. Apakah kita hanya menghargainya dengan dua ribu lima ratus rupiah
saja?

2. Apakah kita akan lebih berharga dengan sederetan label (title)?

3. Apakah kita jauh lebih berharga dengan meningkatkan Kwalitas diri
kita?

Apapun pilihan Anda, harganya tetap "TERGANTUNG PADA PILIHAN KITA,
HARGANYA AKAN TERGANTUNG PADA SEBERAPA JAUH KITA MENGHARGAI DIRI KITA
SENDIRI, KE LEVEL MANA KITA AKAN MEMBAWA DIRI KITA"

Selamat Mencoba Meningkatkan Harga Anda !

Comments

Popular posts from this blog

Krisis ekonomi 1930-an

HAMPIR sepanjang tiga dasawarsa pertama abad ke-20 ekonomi dunia tumbuh pesat. Optimisme sangat besar juga di Indonesia (Hindia Belanda pada masa itu). Tetapi ternyata krisis datang dengan tiba-tiba menjelang akhir 1929, dan akan berlangsung selama bertahun-tahun. Biarpun sejak 1937 ada perbaikan namun sebenarnya baru Perang Dunia II yang mengakhiri zaman depresi.

Sejak mula, perkebunan Indonesia, sebagai penghasil ekspor, sangat sensitif terhadap naik turunnya pasaran dunia. Dalam abad ke-19 hasil ekspor yang terbesar adalah gula dan kopi, khususnya dari Jawa. Gula, kata orang, adalah laut tempat Pulau Jawa mengapung. Dialah soko guru kemakmuran ekonominya. Tetapi dalam abad ke-20, dengan saingan dari Brazil, yang menanam kopi, dan Filipina dan Kuba yang mengembangkan perkebunan gula, serta dimajukannya pembuatan gula biet di Eropa, arti gula sebagai bahan ekspor merosot. Ekspor gula ini kemudian jatuh sama sekali dan hilang arti…

Fiat Money tanpa Standar Emas

Meninggalkan Standar Emas Adalah Kesalahan Fatal Yang Harus Kita TanggungOleh Edmund ConwayPada hari Senin pagi kita sudah berhasil bertahan hidup selama empat dekade dengan fiat money (*) - meskipun, mengingat kekacauan yang terjadi di pasar dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang menebak-nebak berapa lama lagi hal ini akan bisa bertahan.Pada tanggal 15 Agustus 1971, saat keuangan publik Amerika terhambat karena biaya perang Vietnam, Presiden Richard Nixon akhirnya memotong kaitan antara dolar AS dan emas. Sampai saat itu, Departemen Keuangan AS berkewajiban untuk menukar satu ons emas dimana Bank Sentral bersedia untuk membayarnya seharga $ 35.Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat mata uang dunia tidak bergantung pada nilai emas atau komoditas lain yang nyata tapi pada tingkat kepercayaan yang dimiliki investor pada mata uang itu. Bank Sentral diizinkan untuk menetapkan kebijakan moneter berdasarkan naluri mereka daripada pada kebutuhan untuk menjaga …

Olahraga Sekaligus Piknik di Tian Tan Buddha

Setelah beberapa kali pergi ke Hong Kong, saya akhirnya berkesempatan mengunjungi Tian Tan Buddha, sebuah patung Buddha terbesar di Hong Kong yang terletak di Ngong Ping, Pulau Lantau. Patung ini merupakan salah satu tempat wajib yang dikunjungi turis.

(Mengapa baru sekarang? Bukan apa-apa, minat saya sih ada tetapi kadang sering kalah oleh nafsu berbelanja di Hong Kong. Apalagi, kalau menginap di Kowloon. Yah, bawaan kaki pasti menelusuri Nathan Road dan Harbor Front).


Patung Buddha raksasa Tian Tan.

Salah satu hal yang menunda niat saya mengunjungi Tian Tan adalah lokasinya yang cukup jauh sehingga tidak bisa sekali naik dengan kereta bawah tanah. Perlu sekitar 35 menit dari stasiun Hong Kong ke stasiun Tung Chung. Dan setelah turun dari stasiun kereta Tung Chung, mesti meneruskan dengan transportasi lain.

Jika kantong tebal, bisa memilih kereta gantung dengan waktu tempuh sekitar 25 menit. Tetapi, kalau keuangan terbatas (seperti saya waktu itu), bisa naik bus (NLB) sel…