Skip to main content

Fiqih Ramadhan : Hal-Hal Kecil Seputaran Puasa.

 

Suntik dan Obat Tetes Mata

Assalamualaikum wr. Wb.,

Pak Ustadz Yth, melalui rubrik ini saya hendak mengajukan pertanyaan yaitu bahwa bolehkan kita melakukan suntik atau memasukkan obat tetes pada mata kita, karena saya pernah diskusi dengan teman bahwa kedua perbuatan tersebut tidak membatalkan puasa dan boleh dilakukan, namun di sisi lain saya bingung dengan makna hal-hal yang membatalkan puasa antara lain memasukkan sesuatu benda ke dalam rongga tubuh.

Apakah suntik dan obat tetes dimasukkan ke dalam tubuh termasuk di dalam persyaratan tersebut? Mohon penjelasannya dan terima kasih.

Wassalamualaikum wr. wb.

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Yang dimaksud dengan rongga tubuh sebenarnya adalah bagian dalam tubuh, seperti perut dan tenggorokan. Sedangkan mulut dan isinya, bila kemasukan atau dimasukkan ke dalamnya sesuatu, belum termasuk kategori membatalkan puasa.

Suntik Obat

Para ulama umumnya sepakat mengatakan bahwa suntikan obat yang dimasukkan ke dalam tubuh seseorang yang sedang berpuasa tidak membatalkan puasa. Selama suntikan itu berupa obat, tidak berupa makanan.

Lain halnya bila yang disuntikkan merupakan glukosa, atau yang sering kita kenal dengan infus. Para ulama mengatakan bahwa infus makanan yang dimasukkan ke dalam tubuh orang yang sedang sakit akan membatalkan puasanya.

Alasan lain karena suntikan obat itu memang tidak masuk ke dalam rongga perut, hanya masuk bercampur dengan darah untuk membutuh penyakit yang ada di dalam tubuh.

Obat Tetes Mata

Para ulama sepakat bahwa obat tetes mata dan sejenisnya, yang digunakan oleh seseorang yang sedang berpuasa, bukan termasuk hal yang membatalkan puasa.

Karena meski masuk ke dalam mata, cairan itu sebenarnya tidak sampai masuk ke dalam rongga tubuh yang dimaksud, sebagaimana ketika kita berkumur, meski kelihatannya ada air masuk ke dalam mulut, tetap saja belum bisa dibilang membatalkan.

Lalu apa landasan dari pernyataan ini?

Para ulama mengatakan bahwa sama kasusnya dengan orang yang berwudhu atau mencuci muka, pastilah ada tetes air yang mengenai mata. Tetapi tidak pernah ada yang mengatakan bahwa mencuci muka termasuk membatalkan puasa.

Hal yang sama juga terjadi manakala seseorang kemasukan air di dalam kupingnya, misalnya karena mandi atau berenang, semua itu oleh para ulama belum dimasukkan ke dalam kategori yang membatalkan puasa.

Selain itu para ulama mengatakan bahwa masuknya obat tetes tersebut ke dalam perut bukan melalui saluran normal atau biasa. Padahal biasanya melalui mulut. Apalagi benda yang masuk bukan berupa makanan dan minuman.

Dan setelah benda itu dimasukkan, ternyata benda itu tidak membuat yang bersangkutan merasa segar atau kenyang. Jadi akhirnya, para ulama mengatakan bahwa memakai obat tetes mata jauh dari kategori makan atau hal yang membatalkan puasa.

Celak Mata

Memang ada hadits yang yang mengatakan bahwa memakai celak membatalkan puasa, sehingga sebagian orang mengaitkan obat tetes mata sebagai pembatal puasa. Namun menurut para ahli hadis, ternyata hadits-hadits itu adalah hadis mungkar.

Di antara para ulama yang mengatakan bahwa hal-hal di atas tidak membatalkan puasa adalah Dr. Syeikh Yusuf Al-Qardhawi, Ibnu Taimiyyah, dan Ibn Hazam.

Ibn Hazam bahkan berpendapat, "Yang dilarang Allah saat kita berpuasa adalah makan, minum, dan bersetubuh, muntah dengan sengaja dan berbuat maksiat. Allah tidak mengajar kita makan dan minum dari dubur, saluran kencing, mata, telinga, hidung, atau dari pembedahan bagian perut dan kepala.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Muntah dan Sengaja Muntah

Assalamualaikum wr. wb.

Pak Ustadz, jika muntah tidak disengaja ketika sedang berpuasa itu membatalkan puasa atau tidak? Ini berhubungan dengan sisa makanan atau minuman yang tertelan kembali setelah berkumur-kumur. Terima kasih.

Wassalamualaikum wr. wb.

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Umumnya para ulama sepakat bahwa muntah yang di luar kesengajaan itu tidak membatalkan puasa. Yang membatalkan puasa adalah muntah yang disengaja.

Misalnya seseorang memasukkan jarinya saat berpuasa, sehingga mengakibatkan dirinya muntah, maka barulah hal itu membatalkan puasanya.

Sedangkan bila karena suatu hal yang tidak bisa dihindari, kemudian muntah, tentu tidak batal puasanya. Misalnya karena sakit, mual, pusing atau karena naik kendaraan lalu mabuk dan muntah, maka muntah yang seperti itu tidak termasuk kategori yang membatalkan puasa.

Dalil atas hal ini adalah beberapa riwayat dari Rasulullah SAW:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ مَنْ ذَرَعَهُ اَلْقَيْءُ فَلا قَضَاءَ عَلَيْهِ وَمَنْ اسْتَقَاءَ فَعَلَيْهِ اَلْقَضَاءُ -رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ

Dari Abi Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang terpaksa muntah, maka tidak wajib mengqadha' puasanya. Sedangkan siapa yang sengaja muntah, maka wajib mengqadha' puasanya." (HR Khamsah)

Perbedaan Pendapat

Namun ternyata ada juga pihak yang berbeda pendapat. Mereka mengatakan bahwa semua bentuk muntah justru tidak membatalkan puasa.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Imam Malik, Rabi'ah dan Al-Hadi, bahwa mereka berpendapat bahwa muntah itu tidak membatalkan puasa secara mutlak. Baik disengaja maupun tidak disengaja.

Hujjah mereka adalah riwayat berikut ini:

Tiga perkara yang tidak membatalkan puasa: [1] muntah, [2] hijamah (bekam) dan [3] ihtilam (mimpi basah). (HR Tirmizy dan Al-Baihaqi)

Namun hadits ini selain dhaif juga masih terlalu umum. Kalau hadits ini menyebutkan bahwa muntah itu tidak menyebabkan batalnya puasa, memang benar. Akan tetapi muntah itu ada dua macam, yang tidak disengaja dan yang disengaja.

Kalau yang dimaksud oleh hadits ini tentang muntah adalah muntah yang tidak disengaja, maka esensi hadits ini sudah benar. Akan tetapi kalau segala macam muntah tidak membatalkan puasa, maka hal itu tidak benar, sebab ada hadits yang lebih shahih yang menegaskan bahwa muntah yang disengaja itu membatalkan puasa.

Hadits ini lebih umum sedangkan hadits sebelumnnya lebih khusus, maka yang lebih khusus dikedepankan dari pada yang bersifat umum.

Sehingga dalam hal ini yang lebih tepat adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa muntah yang disengaja membatalkan puasa, sedangkan yang tidak disengaja tidak membatalkan puasa.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Berkumur, Mungkinkah Air Tidak Tertelan?

Assalamu'alaikum w.w.

Ketika kita berkumur saat berwudhu saat dalam keadaan berpuasa, mungkinkah air tidak tertelan? Kalau menurut saya, pasti air kumur waktu wudhu' itu bercampur dengan air liur, dan akhirnya tertelan juga. Apakah membatalkan puasa? Apalagi kalau sikat gigi, dengan pasta gigi. Lalu apa solusinya ? Mohon penjelasannya.

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mungkin saja sebagian kecil dari air yang dikumur-kumurkan itu tercampur dengan ludah, lalu ketika seseorang menelan ludah, air itu terminum.

Namun apakah dengan demikian, puasa jadi batal? Mungkin secara logika boleh saja kita berpendapat demikian, namun sebelum kita bicara dengan logika, tidak ada salahnya buat kita untuk merujuk kepada fatwa dan petunjuk nabi Muhammad SAW. Kita perlu mendapat keterangan pasti, benarkah menurut beliau SAW kumur itu membatalkan puasa?

Kalau kita teliti hadits-hadits nabi, kita akan menemukan beberapa riwayat yang justru membolehkan seseorang berkumur, asalkan tidak berlebihan sehingga benar-benar ada yang masuk ke dalam rongga tubuh.

Riwayatkan bahwa Raslullah SAW bersabda:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّاب قَالَ: هَشَشْتُ يَوماً فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ فَقُلْتُ: صَنَعْتُ اليَومَ أَمْراً عَظِيماً فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم: أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِم؟ قُلْتُ: لاَ بَأْسَ بِذَلِك، فَقَالَ رَسُولُ الله َفِيْمَ

Dari Umar bin Al-Khatab radhiyallahu 'anhu berkata, "Suatu hari aku beristirahat dan mencium isteriku sedangkan aku berpuasa. Lalu aku datangi nabi SAW dan bertanya, "Aku telah melakukan sesuatu yang fatal hari ini. Aku telah mencium dalam keadaan berpuasa." Rasulullah SAW menjawab, "Tidakkah kamu tahu hukumnya bila kamu berkumur dalam keadaan berpuasa?" Aku menjawab, "Tidak membatalkan puasa." Rasulullah SAW menjawab, "Maka mencium itu pun tidak membatalkan puasa." (HR Ahmad dan Abu Daud)

Selain itu juga ada hadits lain yang juga seringkali ditetapkan oleh para ulama sebagai dalil kebolehan berkumur pada saat berpuasa.

وَعَنْ لَقِيطِ بْنُ صَبْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ أَسْبِغْ اَلْوُضُوءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ اَلأَصَابِعِ وَبَالِغْ فِي اَلاسْتِنْشَاقِ, إِلا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا- أَخْرَجَهُ اَلأَرْبَعَةُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَة

Dari Laqith bin Shabrah radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sempurnakanlah wudhu', dan basahi sela jari-jari, perbanyaklah dalam istinsyak (memasukkan air ke hidung), kecuali bila sedang berpuasa." (HR Arba'ah dan Ibnu Khuzaemah menshahihkannya).

Meski hadits ini tentang istinsyaq (memasukkan air ke hidung), namun para ulama menyamakan hukumnya dengan berkumur. Intinya, yang dilarang hanya apabila dilakukan dengan berlebihan, sehingga dikhawatirkan akan terminum. Sedangkan bila ber-istinsyaq atau berkumur biasa saja sebagaimana umumnya, maka hukumnya tidak akan membatalkan puasa.

Maka dengan adanya dua dalil ini, logika kita untuk mengatakan bahwa berkumur itu membatalkan puasa menjadi gugur dengan sendirinya. Sebab yang menetapkan batal atau tidaknya puasa bukan semata-mata logika kita saja, melainkan logika pun tetap harus mengacu kepada dalil-dalil syar'i yang ada. Bila tidak ada dalil yang secara sharih dan shaih, barulah analogi atau qiyas yang berdasarkan logika bisa dimainkan.

Bahkan beberapa hadits lain membolehkan hal yang lebih parah dari sekedar berkumur, yaitu kebolehan seorang yang berpuasa untuk mencicipi masakan.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu "Tidak mengapa seorang yang berpuasa untuk mencicipi cuka atau masakan lain, selama tidak masuk ke kerongkongan." (HR Bukhari secara muallaq dengan sanad yang hasan 3/47)

Menggosok Gigi Dengan Pasta Gigi

Tidak merusak puasa bila seseorang bersiwak atau menggosok gigi. Meski tanpa pasta gigi, tetap saja zat-zat yang ada di dalam batang kayu siwak itu bercampur dengan air liur yang tentunya secara logika termasuk ke dalam kategori makan dan minum.

Namun karena ada hadits yang secara tegas menyatakan ketidak-batalannya, maka tentu saja kita ikuti apa yang dikatakan hadits tersebut.

Dari Nafi' dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu bahwa beliau memandang tidak mengapa seorang yang puasa bersiwak. (HR Abu Syaibah dengan sanad yang shahih 3/35)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Masih Ada Sisa Makanan di Mulut

Assalamualaikum Wr.Wb.

Pak Ustadz yang dirahmati Allah SWT

Saya ingin menanyakan perihal puasa. Kita sudah sikat gigi sebelum adzan subuh, kemudian pada pagi hari atau siang hari ternyata masih ada sisa makanan di mulut atau di sela-sela gigi. Ini bagaimana Pak Ustadz? Batalkah puasa saya, padahal saya sudah yakin mulut dan gigi saya sudah bersih dengan sikat gigi sebelum subuh tadi.

Wassalammualaikum Warahmatullohi Wabarokatuh

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Seandainya makanan itu tidak ditelan, maka pada dasarnya tidak termasuk kategori makan. Sebab batasan 'makan' adalah tenggorokan, bukan mulut.

Buktinya, kalau seseorang berkumur dengan air untuk berwudhu', selama air tidak tertelan, maka puasanya tidak batal. Begitu juga dengan kasus menyikat gigi, tidak membatalkan gigi.

Maka bila masih ada sisa makanan yang menempel di sela-sela gigi di siang hari bulan Ramadhan, tidak membatalkan puasa. Selama -tentunya- tidak ditelan.

Termasuk ke dalam kategori yang tidak membatalkan puasa adalah mencicipi makanan. Indra pengecap kita yaitu lidah bisa berfungsi dengan baik untuk merasakan suatu masakan, tanpa harus menelan makanan itu.

Hal ini tentu menguntungkan para ibu yang memasak untuk berbuka puasa. Mereka boleh mencicipi rasa makanan itu, tanpa harus batal puasanya. Tentu saja syaratnya adalah makanan itujangan ditelan. Kalau ditelan, tentu batal puasanya.

Kesimpulannya, yang disebut dengan memakan adalah adalah menelan, bukan memasukkan makanan ke dalam mulut.

Menelan Makanan Karena Lupa

Kasus anda itu bisa berkembang bila anda lupa sedang berpuasa, lalu menelan makanan itu. Bagaimana hukumnya?

Sebenarnya, selama seseorang yang karena lupa lalu makan dan minum pada saat puasa, maka hal itu tidak membatalkan puasanya. Dalilnya adalah apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:

"Telah diangkat pena dari umat atas apa yang mereka lupa, anak anak dan orang yang dipaksa."

Pada kali yang lain, Rasulullah SAW juga bersabda:

Dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang berpuasa lalu makan dan minum karena lupa, maka teruskan puasanya. Sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum." (HR Bukhari: 1923 dan Muslim: 1155).

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Minum Karena Lupa

Assalamu'alakum wr. wb.

Langsung saja Ustadz, apakah batal puasanya kalau kita lupa makan/minum pada waktu puasa syawal/sunnah ? Terima kasih atas tanggapannya.

Wassalam,

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Meski puasa 6 hari bulan Syawwal termasuk puasa sunnah, namun beberapa aturannya tetap sama dengan dengan puasa Ramadhan yang wajib.

Termasuk masalah lupa melakukan sesuatu yang membatalkan puasa, hukumnya tetap berlaku. Misalnya anda makan atau minum pada saat puasa sunnah, maka sebagaimana di dalam puasa wajib, puasa anda tidak batal. Sebab lupa itu adalah karunia yang harus disyukuri, bahkan rezeki dari Allah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اَللَّهُ وَسَقَاهُ- مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abi Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang lupadalam keadaanpuasa lalu makan dan minum, maka hendaklah dia meneruskan puasanya. Karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum." (HR Muttafaq 'alaihi)

وَلِلْحَاكِمِ: مَنْ أَفْطَرَ فِي رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلا قَضَاءَ عَلَيْهِ وَلا كَفَّارَةَ وَهُوَ صَحِيحٌ

Dan menurut riwayat Al-Hakim: Siapa yang ifthar di bulan Ramadhan karena lupa, maka tidak ada kewajiban menqadha' dan membayar kaffarah.

Memang ada beberapa bagian aturan yang berbeda, misalnya tentang keharusan berniat di malam hari untuk puasa wajib. Puasa sunnah seperti puasa Syawwal tidak mengharuskan tabyitun-niyah. Sehingga boleh dilakukan dengan 'mendadak', meski sebelum sama sekali tidak terbersit untuk berpuasa. Bahkan sudah sangat ingin makan dan minum, tetapi berhubung tidak ada yang bisa dimakan, bolehkan saat itu berniat puasa. Asalkan memang sama sekali belum makan dan minum.

عَنْ حَفْصَةَ أُمِّ اَلْمُؤْمِنِينَ عَنِ اَلنَّبِيِّ قَالَ مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ اَلصِّيَامَ قَبْلَ اَلْفَجْرِ فَلا صِيَامَ لَهُ رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ

Dari Hafshah Ummul Mukminin radhiyallahu 'anhu dari nabi SAW berkata, "Orang yang tidak berniat puasa sejak malamnya hingga sebelum fajar, maka tidak sah puasanya." (HR Khamsah)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Masih Makan Waktu Imsak

Assalamu'alaikum. wr. wb.

Pak Ustadz, batalkah puasa kita jika pada saat masuk waktu imsak kita masih makan atau minum? Mohon penjelasannya serta dalil yang berkaitan dengan hal tersebut. Wassalam.

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Penggunaan istilah 'imsak' yang kita kenal sekarang ini sebenarnya kurang tepat, sebab makna imsak sesungguhnya adalah menahan diri dari makan, minum dan hal-hal yang membatalkan puasa. Bukan persiapan untuk memulai puasa beberapa menit menjelang masuknya waktu shubuh.

Imsak itu adalah puasa, bukan bersiap-siap untuk puasa. Tetapi ada beda antara puasa dan imsak. Misalnya, seorang yang secara sengaja membatalkan puasa tanpa alasan atau udzur syar'i, meski puasanya sudah batal, dia tetap wajib imsak. Maksudnya, dia tetap wajib menahan diri dari makan dan minum layaknya orang puasa. Puasanya tidak sah, tetapi tetap wajib imsak. Itulah beda antara puasa dan imsak.

Sedangkan istilah 'imsak' dalam pengertian yang sering kita dapati sekarang ini, justru pengertiannya yang kurang tepat. Sebab tidak ada ketetapannya dari nabi SAW untuk berhenti dari makan dan minum beberapa menit (biasanya 10 menit) sebelum masuknya waktu shubuh.

Bahkan Al-Quran dengan tegas menyebutkan batas waktu mulai puasa itu memang sejak terbitnya fajar. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (QS Al-Baqarah: 187)

Asalkan belum masuk waktu shubuh, kita masih boleh makan, minum dan melakukan hal-hal lainnya. Tidak ada ketentuan kita sudah harus imsak sebelum masuknya waktu shubuh. Sebab batas mulai puasa itu bukan sejak 'imsak', melainkan sejak masuknya waktu shubuh.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


__,_._,___

Comments

Popular posts from this blog

Krisis ekonomi 1930-an

HAMPIR sepanjang tiga dasawarsa pertama abad ke-20 ekonomi dunia tumbuh pesat. Optimisme sangat besar juga di Indonesia (Hindia Belanda pada masa itu). Tetapi ternyata krisis datang dengan tiba-tiba menjelang akhir 1929, dan akan berlangsung selama bertahun-tahun. Biarpun sejak 1937 ada perbaikan namun sebenarnya baru Perang Dunia II yang mengakhiri zaman depresi.

Sejak mula, perkebunan Indonesia, sebagai penghasil ekspor, sangat sensitif terhadap naik turunnya pasaran dunia. Dalam abad ke-19 hasil ekspor yang terbesar adalah gula dan kopi, khususnya dari Jawa. Gula, kata orang, adalah laut tempat Pulau Jawa mengapung. Dialah soko guru kemakmuran ekonominya. Tetapi dalam abad ke-20, dengan saingan dari Brazil, yang menanam kopi, dan Filipina dan Kuba yang mengembangkan perkebunan gula, serta dimajukannya pembuatan gula biet di Eropa, arti gula sebagai bahan ekspor merosot. Ekspor gula ini kemudian jatuh sama sekali dan hilang arti…

Dome Of the Rock Itu bukan Al-Aqsa

Sebagian orang mungkin sering keliru membedakan antara Masjid Al-Aqsa dengan the Dome of the Rock (Kubah Batu Karang), dengan khas kuning keemasan. Orang sering menyangka bahwa the Dome of the Rock adalah Masjid Al-Aqsa. Jika diperhatikan dengan teliti peta keliling kawasan Haram As-Sharif secara seksama, kita akan dapat melihat sebuiah lagi kubah berwarna hijau yang kelihatan agak samar-samar. Percaytalah, kubah yang berwarna hijau itulah Masjid Al-Aqsa yang sebenarnya yang kini berada dalam wilayah cengkeraman Yahudi Israel.
Beberapa saat yang lalu, Dr. Marwan Saeed Saleh Profesor Matematika di Universitas Zayed Dubai pernah menulis peringatanj tentnang tipuan yahudi mengenai kubah masjid Al-Aqsa dengan kubah masjid Shakhra atau populer disebut the Dome of the rock (Kubah Batu Karang). Surat yang ditulis dan dimuat di Harian Al-Dastour itu antara lain menjelaskan bebrapa kekeliruan memahami Masjidil Aqsa dan The Dome of The Rock.
Sebagaimana diketahui, disekitar Haram AS-S…

Fiat Money tanpa Standar Emas

Meninggalkan Standar Emas Adalah Kesalahan Fatal Yang Harus Kita TanggungOleh Edmund ConwayPada hari Senin pagi kita sudah berhasil bertahan hidup selama empat dekade dengan fiat money (*) - meskipun, mengingat kekacauan yang terjadi di pasar dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang menebak-nebak berapa lama lagi hal ini akan bisa bertahan.Pada tanggal 15 Agustus 1971, saat keuangan publik Amerika terhambat karena biaya perang Vietnam, Presiden Richard Nixon akhirnya memotong kaitan antara dolar AS dan emas. Sampai saat itu, Departemen Keuangan AS berkewajiban untuk menukar satu ons emas dimana Bank Sentral bersedia untuk membayarnya seharga $ 35.Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat mata uang dunia tidak bergantung pada nilai emas atau komoditas lain yang nyata tapi pada tingkat kepercayaan yang dimiliki investor pada mata uang itu. Bank Sentral diizinkan untuk menetapkan kebijakan moneter berdasarkan naluri mereka daripada pada kebutuhan untuk menjaga …