Skip to main content

Mari Belajar dari Pesaing!

Bisnis memang seringkali direpotkan oleh beberapa pesaing yang menawarkan produk mirip dengan produk kami. Dengan agresivitas kompetitor yang seperti ini profitabilitas bisa terancam. Bagaimana seharusnya menyikapi pesaing yang sangat agresif seperti ini.

Kehadiran kompetitor selalu seperti pedang bermata dua. Di satu sisi ia merepotkan, karena mengancam dominasi pasar kita. Sementara itu di sisi lain, ia juga membangunkan kita dari kelengahan. Pesaing juga bisa di lihat sebagai "mitra" untuk mendidik pasar.

Namun, sementara ini banyak perusahaan yang enggan untuk belajar dari pesaingnya, entah karena "gengsi", atau lantaran tidak tahu caranya. Sebab, manakala perusahaan saling bersaing maka mereka akan saling menutupi sumber informasi yang dianggapnya bisa menguntungkan pesaing.

Analisa pesaing sangatlah krusial, selain soal saingan produk dan perebutan jalur distribusi penjualan, adalah juga soal penetapan struktur harga. Hal yang sederhana misalnya, jangan sampai kita beri harga terlalu tinggi dibanding kompetitor sehingga pelanggan jadi resisten. Atau sebaliknya harga terlalu murah, sehingga kita malah kehilangan kesempatan (lost-opportunity) memperoleh keuntungan lebih.

    Menyimak apa yang dirumuskan Freddy Rangkuti (bukunya: Creating Effective Marketing Plan, Penerbit Gramedia, 2002), dapat kita pelajari teknik analisa kompetitor secara komprehensif.

    Maksud utama analisa pesaing adalah supaya diperoleh gambaran detail tentang pengaruh pelbagai faktor eksternal seperti peluang (opportunity) dan ancaman (threats) yang berpengaruhi pada bisnis kita secara langsung maupun tidak langsung. Beberapa keuntungan praktis dari proses analisa kompetitor ini adalah: kita mengetahui keunggulan pesaing, jadi tahu alasan pelanggan menggunakan produk pesaing, kita bisa merancang program komunikasi pemasaran secara lebih efektif, analisa kompetitor yang tajam bisa memicu kreativitas dan daya inovasi kita sendiri untuk melakukan perubahan dan perbaikan produk kita.

    Langkah awal analisa pesaing adalah membuat daftar perusahan yang produknya atau penawarannya bersaingan langsung. Juga identifikasi produk lain yang potensial jadi pengganti (substitusi) produk Anda. Supaya lebih efektif dan tajam observasinya, pilihlah tiga sampai lima produk (perusahaan) yang dianggap paling relevan.

    Beberapa cara memperoleh informasi pesaing adalah lewat:
a) internet,
b) kunjungan personal ke perusahaan pesaing (banyak cara untuk ini, misalnya lewat
asosiasi, kelompok profesi yang kadangkala menyelenggarakan factory-tour, dll),
c) bicara dengan pelanggan, dan pelajari bagaimana pendapatnya mengenai perusahaan Anda maupun pesaing,
d) pelajari iklan pesaing, yaitu tentang: target market-nya, posisi pasar, penampilan produk, keuntungan (benefits) yang ditawarkan, dan harga,
e) hadiri seminar atau presentasi yang diadakan pesaing,
f) amati pameran dagang para pesaing secara kritis, terutama dari sudut pandang pelanggan potensial,
g) pelajari dokumen tertulisnya, seperti: publikasi bisnis, publikasi iklan dan pemasaran (brosur, leaflet, dll), jurnal ilmiah, surat kabar, majalah, publikasi dari asosiasi industri dan perdagangan, publikasi hasil penelitian sektor industri tertentu, data base atau publikasi
perpusatakaan perguruan tinggi, laporan tahunan, yellow pages, dll,
h) akhirnya buatlah file (folder) untuk masing-masing pesaing, serta update data itu secara
berkala.

    Beberapa pertanyaan panduan yang bisa dipakai dalam analisa pesaing:

a) Seberapa komprehensif permainan pesaing Anda?
    Apakah mereka berorientasi pada produk atau proses?
    Hal yang juga penting, seberapa jauh mereka memiliki keterkaitan organisasional dengan perusahaan global atau internasional?

b) Bagaimana pesaing Anda melihat masa depan?
    Skenario apa yang akan dipakainya di masa depan?

c) Kira-kira sumber daya apa yang belum dimanfaatkan oleh pesaing kita?
    Dari mana perusahaan kompetitor memperoleh ide untuk masa depan?
    Seberapa banyak sumber daya yang tersedia di perusahaan tersebut?

d) Bagaimana positioning kompetitor? Bagaimana Anda dapat memahami semua  pesaing untuk memperdalam visi bisnis yang Anda kelola?

e) Akhirnya, tanyakan juga, apakah kita perlu bersaing dengan mereka?

Setelah melihat semua faktor internal dan eksternal, toh akhirnya kita mesti  memilih untuk bersaing dengan siapa.

    Pada intinya, jadikan analisa pesaing juga sebagai sumber inspirasi  pengembangan produk, juga unutk perbaikan proses produksi dan proses pelayanan  pelanggan. Karena hal itu sekaligus akan memperbaiki kinerja manajemen bisnis  kita. Bersiaplah untuk sukses.

Jorganizer Hamdani
024-7060.9694 (flexy)
hope 4 the best n prepare 4 the worst
knowing is nothing without applying

Comments

Popular posts from this blog

Krisis ekonomi 1930-an

HAMPIR sepanjang tiga dasawarsa pertama abad ke-20 ekonomi dunia tumbuh pesat. Optimisme sangat besar juga di Indonesia (Hindia Belanda pada masa itu). Tetapi ternyata krisis datang dengan tiba-tiba menjelang akhir 1929, dan akan berlangsung selama bertahun-tahun. Biarpun sejak 1937 ada perbaikan namun sebenarnya baru Perang Dunia II yang mengakhiri zaman depresi.

Sejak mula, perkebunan Indonesia, sebagai penghasil ekspor, sangat sensitif terhadap naik turunnya pasaran dunia. Dalam abad ke-19 hasil ekspor yang terbesar adalah gula dan kopi, khususnya dari Jawa. Gula, kata orang, adalah laut tempat Pulau Jawa mengapung. Dialah soko guru kemakmuran ekonominya. Tetapi dalam abad ke-20, dengan saingan dari Brazil, yang menanam kopi, dan Filipina dan Kuba yang mengembangkan perkebunan gula, serta dimajukannya pembuatan gula biet di Eropa, arti gula sebagai bahan ekspor merosot. Ekspor gula ini kemudian jatuh sama sekali dan hilang arti…

Dome Of the Rock Itu bukan Al-Aqsa

Sebagian orang mungkin sering keliru membedakan antara Masjid Al-Aqsa dengan the Dome of the Rock (Kubah Batu Karang), dengan khas kuning keemasan. Orang sering menyangka bahwa the Dome of the Rock adalah Masjid Al-Aqsa. Jika diperhatikan dengan teliti peta keliling kawasan Haram As-Sharif secara seksama, kita akan dapat melihat sebuiah lagi kubah berwarna hijau yang kelihatan agak samar-samar. Percaytalah, kubah yang berwarna hijau itulah Masjid Al-Aqsa yang sebenarnya yang kini berada dalam wilayah cengkeraman Yahudi Israel.
Beberapa saat yang lalu, Dr. Marwan Saeed Saleh Profesor Matematika di Universitas Zayed Dubai pernah menulis peringatanj tentnang tipuan yahudi mengenai kubah masjid Al-Aqsa dengan kubah masjid Shakhra atau populer disebut the Dome of the rock (Kubah Batu Karang). Surat yang ditulis dan dimuat di Harian Al-Dastour itu antara lain menjelaskan bebrapa kekeliruan memahami Masjidil Aqsa dan The Dome of The Rock.
Sebagaimana diketahui, disekitar Haram AS-S…

Fiat Money tanpa Standar Emas

Meninggalkan Standar Emas Adalah Kesalahan Fatal Yang Harus Kita TanggungOleh Edmund ConwayPada hari Senin pagi kita sudah berhasil bertahan hidup selama empat dekade dengan fiat money (*) - meskipun, mengingat kekacauan yang terjadi di pasar dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang menebak-nebak berapa lama lagi hal ini akan bisa bertahan.Pada tanggal 15 Agustus 1971, saat keuangan publik Amerika terhambat karena biaya perang Vietnam, Presiden Richard Nixon akhirnya memotong kaitan antara dolar AS dan emas. Sampai saat itu, Departemen Keuangan AS berkewajiban untuk menukar satu ons emas dimana Bank Sentral bersedia untuk membayarnya seharga $ 35.Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat mata uang dunia tidak bergantung pada nilai emas atau komoditas lain yang nyata tapi pada tingkat kepercayaan yang dimiliki investor pada mata uang itu. Bank Sentral diizinkan untuk menetapkan kebijakan moneter berdasarkan naluri mereka daripada pada kebutuhan untuk menjaga …