Skip to main content

Indonesia-China Bekerjasama.



Belajarlah sampai ke Negeri China! Ungkapan tersebut memang benar adanya. Saat ini, China dengan jumlah penduduk terbesar di dunia telah memegang posisi kedua dalam kemajuan perekonomiannya. Banyak faktor yang menjadi pendorong kemajuan Negeri Tirai Bambu ini, salah satunya adalah kemauannya untuk membuka diri dan bekerja sama dengan Negara lain, tidak terkecuali dengan Negara-negara Arab.

Kerjasama dengan Negara-negara Arab di bidang ekonomi dan perdagangan telah diinisiasi sejak Tahun 2010, dengan menyelenggarakan China-Arab States on Economic and Trade Forum. Suatu ajang tahunan bergengsi yang memberikan ruang bagi semua pihak - Pemerintah, Akademisi dan Pengusaha untuk bertukar informasi dan menjalin kerjasama yang saling menguntungkan. Tidak hanya itu, Pemerintah China menyadari bahwa kemajuan ekonomi sangat ditunjang oleh tingkat kemajuan di bidang Iptek. Oleh karena itu, penyelenggaraan China-Arab States on Economic and Trade Forum pada tahun 2011 dilakukan secara bersama dengan China-Arab States on Science and Technology Forum pada 21-23 September 2011. Forum ini juga terbuka untuk Negara Muslim lainnya di luar kawasan Arab, seperti Indonesia. Kedua Forum kerjasama diselenggarakan di Yinchuan, ibukota Propinsi Ningxia Hui Autonomous Region. Dipilihnya Propinsi Ningxia karena wilayah ini memiliki jumlah Muslim yang besar, yaitu tidak kurang 35% dari (lebih dari) 6 juta penduduknya.

Melihat hubungan kerjasama bilateral yang baik antara China dan Indonesia yang terjalin sejak tahun 1994 serta Indonesia sebagai Negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar, Pemerintah China mengundang Indonesia untuk hadir dalam Forum kerjasama tersebut. Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Riset dan Teknologi diwakili oleh Deputi Menteri Bidang Jaringan Iptek, Syamsa Ardisasmita berkesempatan untuk memberikan sambutan kunci dalam forum tersebut. Dalam sambutannya, Syamsa menjelaskan tentang kebijakan percepatan pembangunan ekonomi Pemerintah Indonesia, bentuk-bentuk kerjasama yang telah terjalin antara China dan Indonesia serta potensi kerjasama lainnya.


Potensi Kerjasama
Peluang kerjasama terbuka tidak hanya antar Pemerintah, tetapi juga pihak swasta. Pada kesempatan yang sama, Deputi Menteri Bidang Jaringan Iptek menjadi saksi dalam penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara PT INTI dengan Diantong Company. Diantong Company merupakan perusahaan swasta di bidang industri informasi, berdiri sejak tahun 1991. Ruang lingkup kerjasama diantaranya adalah riset pengembangan produk yang dilakukan bersama antara tenaga ahli dari kedua perusahaan.  

Propinsi Ningxia, yang dialiri oleh Sungai Kuning pada bagian utara menjadi lahan pertanian yang subur untuk padi, jagung dan gandum. Dengan teknologi pertanian yang dimiliki, seperti rekayasa genetik dan desertification, bagian selatan yang tandus bukan menjadi permasalahan dalam mengembangkan hasil pertanian. Salah satu produk unggulan dari Propinsi Ningxia adalah Wolfberry (Lycium) atau dalam bahasa Mandarin lebih dikenal dengan nama Goji merupakan buah berwarna merah yang secara saintifik telah dibuktikan dapat meningkatkan imunitas tubuh.

Dalam bidang energi, pengembangan energi baru dan terbarukan juga menjadi prioritas di Ningxia, seperti pembangkit listrik tenaga solar dan angin.

Dengan beberapa persamaan potensi yang dimiliki oleh China dan Indonesia, kedua negara berharap kerjasama yang telah terjalin dapat terus dikembangkan khususnya di Propinsi Ningxia Hui Autonomous Region.


 
Jorganizer Hamdani
024-7060.9694 (flexy)
hope 4 the best n prepare 4 the worst
knowing is nothing without applying

Comments

Popular posts from this blog

Krisis ekonomi 1930-an

HAMPIR sepanjang tiga dasawarsa pertama abad ke-20 ekonomi dunia tumbuh pesat. Optimisme sangat besar juga di Indonesia (Hindia Belanda pada masa itu). Tetapi ternyata krisis datang dengan tiba-tiba menjelang akhir 1929, dan akan berlangsung selama bertahun-tahun. Biarpun sejak 1937 ada perbaikan namun sebenarnya baru Perang Dunia II yang mengakhiri zaman depresi.

Sejak mula, perkebunan Indonesia, sebagai penghasil ekspor, sangat sensitif terhadap naik turunnya pasaran dunia. Dalam abad ke-19 hasil ekspor yang terbesar adalah gula dan kopi, khususnya dari Jawa. Gula, kata orang, adalah laut tempat Pulau Jawa mengapung. Dialah soko guru kemakmuran ekonominya. Tetapi dalam abad ke-20, dengan saingan dari Brazil, yang menanam kopi, dan Filipina dan Kuba yang mengembangkan perkebunan gula, serta dimajukannya pembuatan gula biet di Eropa, arti gula sebagai bahan ekspor merosot. Ekspor gula ini kemudian jatuh sama sekali dan hilang arti…

Fiat Money tanpa Standar Emas

Meninggalkan Standar Emas Adalah Kesalahan Fatal Yang Harus Kita TanggungOleh Edmund ConwayPada hari Senin pagi kita sudah berhasil bertahan hidup selama empat dekade dengan fiat money (*) - meskipun, mengingat kekacauan yang terjadi di pasar dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang menebak-nebak berapa lama lagi hal ini akan bisa bertahan.Pada tanggal 15 Agustus 1971, saat keuangan publik Amerika terhambat karena biaya perang Vietnam, Presiden Richard Nixon akhirnya memotong kaitan antara dolar AS dan emas. Sampai saat itu, Departemen Keuangan AS berkewajiban untuk menukar satu ons emas dimana Bank Sentral bersedia untuk membayarnya seharga $ 35.Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat mata uang dunia tidak bergantung pada nilai emas atau komoditas lain yang nyata tapi pada tingkat kepercayaan yang dimiliki investor pada mata uang itu. Bank Sentral diizinkan untuk menetapkan kebijakan moneter berdasarkan naluri mereka daripada pada kebutuhan untuk menjaga …

Olahraga Sekaligus Piknik di Tian Tan Buddha

Setelah beberapa kali pergi ke Hong Kong, saya akhirnya berkesempatan mengunjungi Tian Tan Buddha, sebuah patung Buddha terbesar di Hong Kong yang terletak di Ngong Ping, Pulau Lantau. Patung ini merupakan salah satu tempat wajib yang dikunjungi turis.

(Mengapa baru sekarang? Bukan apa-apa, minat saya sih ada tetapi kadang sering kalah oleh nafsu berbelanja di Hong Kong. Apalagi, kalau menginap di Kowloon. Yah, bawaan kaki pasti menelusuri Nathan Road dan Harbor Front).


Patung Buddha raksasa Tian Tan.

Salah satu hal yang menunda niat saya mengunjungi Tian Tan adalah lokasinya yang cukup jauh sehingga tidak bisa sekali naik dengan kereta bawah tanah. Perlu sekitar 35 menit dari stasiun Hong Kong ke stasiun Tung Chung. Dan setelah turun dari stasiun kereta Tung Chung, mesti meneruskan dengan transportasi lain.

Jika kantong tebal, bisa memilih kereta gantung dengan waktu tempuh sekitar 25 menit. Tetapi, kalau keuangan terbatas (seperti saya waktu itu), bisa naik bus (NLB) sel…