Skip to main content

Investors Fleeing From the Rupiah

The rupiah remained weak on Tuesday even as Bank Indonesia stepped in to halt its depreciation against the dollar, traders and analysts in Jakarta said.

One trader, who declined to be identified, said the central bank was selling as much as $300 million on the market on Tuesday to defend the rupiah. Bank Indonesia officials were not immediately available for comment.

Concerns about Europe's debt crisis and slowing US growth have prompted investors to dump their assets in Indonesia. A rush by Indonesian companies to buy dollars also helped weaken the rupiah.

"It's a psychological game. Companies want to buy dollars now before it gets worse,'' said Lindawati Susanto, head of the treasury at
Bank Resona Perdania in Jakarta. "The rupiah's decline has led to more demand for the dollar by companies, reflecting corporate panic buying. It's a combination of three factors: the European debt crisis, the US slowdown and corporate panic buying.''

The rupiah, which closed at 8,805 against the US dollar on Monday, opened at 8,950 on Tuesday morning and continued to weaken throughout the day. The currency, which was the top performer in the Asia-Pacific region last year, traded as high as 9,050 before settling at 8,980 at the close of trading in Jakarta on Tuesday.

On the stock market, where overseas investments typically account for around two-thirds of daily trading, the Jakarta Composite Index lost as much as 2.2 percent in intraday trading before closing down 0.1 percent.

Foreign investors also account for about a third of holdings in Indonesia's government securities, so the 10-year bond yield — which moves inversely to price — rose to 7.3 percent from 7.14 percent on Monday.

"Foreign exposure in our assets remain big,'' said Juniman, an economist and currency strategist at Bank Internasional Indonesia.

"They used the Euro debt crisis and slowing economy in the US as an excuse to exit Indonesia. They sold all their assets, including the ones in Indonesia. Their rupiah holdings were converted into dollars. Consequently, the rupiah slipped."

Still, Juniman was optimistic that foreign investors' confidence in Indonesia and other emerging markets would return once global financial concerns subsided.

Foreign holdings of Indonesia's government bonds fell 6.8 percent to Rp 234.18 trillion ($26.5 billion) on Tuesday from Rp 251.23 trillion as of Sept. 9, according to data from the Debt Management Office in Jakarta.

On Monday, Bank Indonesia deputy governor Hartadi A. Sarwono said Indonesia's foreign-exchange reserves fell to $122 billion last week after the bank stepped in to defend the rupiah, according to state news agency Antara. Indonesia's foreign exchange reserves were $124.6 billion at the end of August.

Bank Indonesia first intervened in the currency and debt markets on Sept. 14 to prevent the rupiah from depreciating further against the dollar. The central bank also claimed the rupiah's decline against the greenback was only temporary.

"Bank Indonesia will always safeguard the market,'' Lindawati said


 
Jorganizer Hamdani
024-7060.9694 (flexy)
hope 4 the best n prepare 4 the worst
knowing is nothing without applying



Comments

Popular posts from this blog

Krisis ekonomi 1930-an

HAMPIR sepanjang tiga dasawarsa pertama abad ke-20 ekonomi dunia tumbuh pesat. Optimisme sangat besar juga di Indonesia (Hindia Belanda pada masa itu). Tetapi ternyata krisis datang dengan tiba-tiba menjelang akhir 1929, dan akan berlangsung selama bertahun-tahun. Biarpun sejak 1937 ada perbaikan namun sebenarnya baru Perang Dunia II yang mengakhiri zaman depresi.

Sejak mula, perkebunan Indonesia, sebagai penghasil ekspor, sangat sensitif terhadap naik turunnya pasaran dunia. Dalam abad ke-19 hasil ekspor yang terbesar adalah gula dan kopi, khususnya dari Jawa. Gula, kata orang, adalah laut tempat Pulau Jawa mengapung. Dialah soko guru kemakmuran ekonominya. Tetapi dalam abad ke-20, dengan saingan dari Brazil, yang menanam kopi, dan Filipina dan Kuba yang mengembangkan perkebunan gula, serta dimajukannya pembuatan gula biet di Eropa, arti gula sebagai bahan ekspor merosot. Ekspor gula ini kemudian jatuh sama sekali dan hilang arti…

Fiat Money tanpa Standar Emas

Meninggalkan Standar Emas Adalah Kesalahan Fatal Yang Harus Kita TanggungOleh Edmund ConwayPada hari Senin pagi kita sudah berhasil bertahan hidup selama empat dekade dengan fiat money (*) - meskipun, mengingat kekacauan yang terjadi di pasar dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang menebak-nebak berapa lama lagi hal ini akan bisa bertahan.Pada tanggal 15 Agustus 1971, saat keuangan publik Amerika terhambat karena biaya perang Vietnam, Presiden Richard Nixon akhirnya memotong kaitan antara dolar AS dan emas. Sampai saat itu, Departemen Keuangan AS berkewajiban untuk menukar satu ons emas dimana Bank Sentral bersedia untuk membayarnya seharga $ 35.Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat mata uang dunia tidak bergantung pada nilai emas atau komoditas lain yang nyata tapi pada tingkat kepercayaan yang dimiliki investor pada mata uang itu. Bank Sentral diizinkan untuk menetapkan kebijakan moneter berdasarkan naluri mereka daripada pada kebutuhan untuk menjaga …

Olahraga Sekaligus Piknik di Tian Tan Buddha

Setelah beberapa kali pergi ke Hong Kong, saya akhirnya berkesempatan mengunjungi Tian Tan Buddha, sebuah patung Buddha terbesar di Hong Kong yang terletak di Ngong Ping, Pulau Lantau. Patung ini merupakan salah satu tempat wajib yang dikunjungi turis.

(Mengapa baru sekarang? Bukan apa-apa, minat saya sih ada tetapi kadang sering kalah oleh nafsu berbelanja di Hong Kong. Apalagi, kalau menginap di Kowloon. Yah, bawaan kaki pasti menelusuri Nathan Road dan Harbor Front).


Patung Buddha raksasa Tian Tan.

Salah satu hal yang menunda niat saya mengunjungi Tian Tan adalah lokasinya yang cukup jauh sehingga tidak bisa sekali naik dengan kereta bawah tanah. Perlu sekitar 35 menit dari stasiun Hong Kong ke stasiun Tung Chung. Dan setelah turun dari stasiun kereta Tung Chung, mesti meneruskan dengan transportasi lain.

Jika kantong tebal, bisa memilih kereta gantung dengan waktu tempuh sekitar 25 menit. Tetapi, kalau keuangan terbatas (seperti saya waktu itu), bisa naik bus (NLB) sel…