Skip to main content

Jalan Tengah Ala Sejarawan LIPI

Headline
Asvi Warman Adam - inilah.com

Hari nasional yang selalu diperingati setiap 20 Mei itu selalu menarik perhatian publik karena banyak hal terkait di dalamnya, termasuk kontroversinya.

Sebagaimana diketahui tanggal 20 Mei dijadikan hari kebangkitan nasional karena pada 20 Mei 1908 didirikan organisasi yang dipercaya sebagai awal dari gerakan menuju kemerdekaan Indonesia, yakni Boedi Oetomo.

Namun, bagi sebagian kalangan penetapan Boedi Oetomo sebagai organisasi pertama dengan tujuan gerakan menuju kemerdekaan tidak bisa diterima begitu saja. Sebab, pada 1905 sudah lahir organisasi pergerakan, yakni Sarekat Dagang Islam (SDI). Organisasi ini kemudian berubah menjadi Sarekat Islam (SI) dan kemudian Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).

Bagi kalangan sejarawan, perbedaan pendapat itu terus mengemuka, ada yang pro dan ada yang kontra. Pendukung SDI menyatakan itulah organisasi politik pertama karena menentang dominasi perdagangan oleh etnis Tiong Hoa.

Mereka menyatakan Boedi Oetomo bukan organisasi pergerakan, bahkan merupakan organisasi ekslusif karena hanya untuk siswa sekolah kedokteran, Stovia. Organisasi ini juga bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, bukan pergerakan.

Lalu bagaimana dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)? Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam rupanya punya kiat tersendiri untuk berada dalam perdebatan ini.
"Saya mengambil jalan tengahnya saja, bahwa kita tetap memperingati Kebangkitan Nasional sambil mengenang Boedi Oetomo tapi juga membandingkan dan membicarakan Sarekat Islam," ujar Asvi kepada wartawan usai Media Briefing ' RUU Intelijen Ancaman Badi Demokrasi dan Penegakan HAM di Indonesia' di Bakoel Koffie Jakarta, Rabu (11/5).

Menurutnya, 20 Mei sebagai hari Kebangkitan Nasional sudah terjadi puluhan tahun yang lalu. Yang penting adalah memperingatinya. Perkara ada anggapan Boedi Oetomo bukan representasi aspek nasional atau SI lebih dulu lahir, memang tidak bisa dihindari."Yang pasti, kita tidak bisa menetapkan semua tanggal lahir organisasi menjadi tanggal yang sama."

Dengan jalan tengah, Asvi merasa perdebatan akan semakin produktif, bukan sekadar benar atau salah. Bukan pula memilih Boedi Oetomo atau Sarekat Islam.

http://nasional.inilah.com/read/detail/1503952/jalan-tengah-ala-sejarawan-lipi


 
Jorganizer Hamdani
024-7060.9694 (flexy)
hope 4 the best n prepare 4 the worst
knowing is nothing without applying

Comments

Popular posts from this blog

Krisis ekonomi 1930-an

HAMPIR sepanjang tiga dasawarsa pertama abad ke-20 ekonomi dunia tumbuh pesat. Optimisme sangat besar juga di Indonesia (Hindia Belanda pada masa itu). Tetapi ternyata krisis datang dengan tiba-tiba menjelang akhir 1929, dan akan berlangsung selama bertahun-tahun. Biarpun sejak 1937 ada perbaikan namun sebenarnya baru Perang Dunia II yang mengakhiri zaman depresi.

Sejak mula, perkebunan Indonesia, sebagai penghasil ekspor, sangat sensitif terhadap naik turunnya pasaran dunia. Dalam abad ke-19 hasil ekspor yang terbesar adalah gula dan kopi, khususnya dari Jawa. Gula, kata orang, adalah laut tempat Pulau Jawa mengapung. Dialah soko guru kemakmuran ekonominya. Tetapi dalam abad ke-20, dengan saingan dari Brazil, yang menanam kopi, dan Filipina dan Kuba yang mengembangkan perkebunan gula, serta dimajukannya pembuatan gula biet di Eropa, arti gula sebagai bahan ekspor merosot. Ekspor gula ini kemudian jatuh sama sekali dan hilang arti…

Fiat Money tanpa Standar Emas

Meninggalkan Standar Emas Adalah Kesalahan Fatal Yang Harus Kita TanggungOleh Edmund ConwayPada hari Senin pagi kita sudah berhasil bertahan hidup selama empat dekade dengan fiat money (*) - meskipun, mengingat kekacauan yang terjadi di pasar dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang menebak-nebak berapa lama lagi hal ini akan bisa bertahan.Pada tanggal 15 Agustus 1971, saat keuangan publik Amerika terhambat karena biaya perang Vietnam, Presiden Richard Nixon akhirnya memotong kaitan antara dolar AS dan emas. Sampai saat itu, Departemen Keuangan AS berkewajiban untuk menukar satu ons emas dimana Bank Sentral bersedia untuk membayarnya seharga $ 35.Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat mata uang dunia tidak bergantung pada nilai emas atau komoditas lain yang nyata tapi pada tingkat kepercayaan yang dimiliki investor pada mata uang itu. Bank Sentral diizinkan untuk menetapkan kebijakan moneter berdasarkan naluri mereka daripada pada kebutuhan untuk menjaga …

Olahraga Sekaligus Piknik di Tian Tan Buddha

Setelah beberapa kali pergi ke Hong Kong, saya akhirnya berkesempatan mengunjungi Tian Tan Buddha, sebuah patung Buddha terbesar di Hong Kong yang terletak di Ngong Ping, Pulau Lantau. Patung ini merupakan salah satu tempat wajib yang dikunjungi turis.

(Mengapa baru sekarang? Bukan apa-apa, minat saya sih ada tetapi kadang sering kalah oleh nafsu berbelanja di Hong Kong. Apalagi, kalau menginap di Kowloon. Yah, bawaan kaki pasti menelusuri Nathan Road dan Harbor Front).


Patung Buddha raksasa Tian Tan.

Salah satu hal yang menunda niat saya mengunjungi Tian Tan adalah lokasinya yang cukup jauh sehingga tidak bisa sekali naik dengan kereta bawah tanah. Perlu sekitar 35 menit dari stasiun Hong Kong ke stasiun Tung Chung. Dan setelah turun dari stasiun kereta Tung Chung, mesti meneruskan dengan transportasi lain.

Jika kantong tebal, bisa memilih kereta gantung dengan waktu tempuh sekitar 25 menit. Tetapi, kalau keuangan terbatas (seperti saya waktu itu), bisa naik bus (NLB) sel…