Skip to main content

Kompetensi Bisnis Global

  Kompleksitas lanskap bisnis yang digambar lewat survey The McKinsey Quarterly pada bulan November 2007 memperlihatkan tiga kecenderungan global yang perlu
disikapi secara memadai oleh setiap pelaku usaha. Trend pertama adalah semakin tajamnya persaingan perebutan talenta (baca: human capital) terbaik di dunia. Kedua, terjadinya pergesaran pusat-pusat aktifitas ekonomi dunia. Kecenderungan global ketiga, adalah makin maraknya lingkungan networked-business (ala Li & Fung yang mampu mengorkestrasi puluhan bahkan ratusan anggota jaringannya secara harmonis dan menguntungkan).

  Selain itu, ada dua tema besar yang kerap muncul dan jadi concern dari hampir setiap pelaku usaha disamping ketiga tantangan global tadi yang datang bergulung-gulung. Pertama, bagaimana menggerakkan organisasi dengan lincah. Dan kedua, bagaimana menyikapi dengan tepat kenyataan keanekaragaman geografis dan regional.

  Ironisnya, tatkala ditanya soal kesiapan menghadapi tantangan dan keprihatinan global ini, lebih dari dua per tiga eksekutif mengatakan bahwa organisasinya tidak (belum) punya pandangan  jernih tentang perubahan apa yang perlu dilakukan demi meyelaraskan diri dengan kebutuhan pelbagai pembangunan ekonomi dan sosial yang menyeruak.

***

  Pernah diprediksi oleh para pemikir di Yayasan Indonesia Forum, bahwa Indonesia di tahun 2030 bakal menempati posisi kelima (dengan ukuran PDB sekitar US$5.1 trilyun) setelah China ($28.2T), Amerika Serikat ($26.1T), Uni Eropa ($20.7T) dan India ($17.0T). Road-map menuju posisi 5 besar di tahun 2030 dibagi menjadi 3 tahap.

  Tahap 1, adalah perjalanan menuju tahun 2015 dengan laju pertumbuhan 5-7 persen per tahun. Ini disebut tahap Pembenahan (yang dibenahi adalah sistem dan pola pembangunan), di mana kita belajar dengan mengadopsi teknologi luar negeri sembari mengembangkan teknologi lokal. Tahap 2, adalah tahap Akselerasi (dengan pertumbuhan sekitar 9-11 persen per tahun). Cirinya, pertumbuhan sektor jasa lebih tinggi dibanding sektor industri. Tahap 3, adalah tahap Keberlanjutan, dimana tingkat pertumbuhan dijaga pada kisaran 7-9 per sen per tahun. Sekedar catatan bagi para professional Indonesia, di tahun 2030 perkiraannya PDB per kapita kita sudah mencapai US$18,000 dengan jumlah penduduk berkisar 285 juta orang. Dan perlu ingat, prestasi itu bisa tercapai jika rata-rata pertumbuhan 2006 – 2030 ada pada kisaran 8,5 persen per tahun, dengan rata-rata inflasi sebesar 3 persen, dan laju pertambahan penduduk rata-rata 1,12 persen per tahun.

***

  Dengan melihat ukuran-ukuran ekonomi sebagai lag-indicators (akibat), maka perlu dipahami betul faktor-faktor apa saja yang merupakan lead-indicators-nya (penyebab). Kerangka balanced-scorecard membantu kita untuk melihat cause & effect dari asumsi-asumsi pertumbuhan itu. Urut-urutan dari faktor financial yang disebabkan faktor customer, di mana customer ini pada gilirannya hanya terjamin kepuasannya jika internal-process kita bisa menghasilkan produk atau jasa yang paling bernilai tambah. Dan pada analisa berikutnya, proses-proses bisnis (dan pembangunan) hanya bisa berjalan baik jika – pada ujungnya – faktor modal manusia bisa optimal dalam dimensi learning & growth-nya.

  Ini merupakan management-toolkit sederhana namun powerful bagi setiap kita untuk secara sadar melihat dan mulai membangun kompetensi. Perlu sikap pembelajaran sebagai profesional sejati yang berani hidup otentik agar kontribusinya positif dan konstruktif bagi proses pengelolaan pembangunan. Sehingga siapa pun yang dilayani oleh produk industri maupun jasa kita dapat terpuaskan dan akhirnya target-target ekonomi bisa tercapai demi kemaslahatan bangsa.

***

  Di abad ke-14 China adalah negara paling maju di dunia, super-power. Gavin Menzies (dalam bukunya: 1421, Saat China Menemukan Dunia, Pustaka Alvabet, cetakan ke-3, 2007) mencatat: "Kapal yang paling kuat di dunia pada abad keempatbelas dan awal abad kelimabelas, dan bahkan terbesar adalah kapal layar China. Ibnu Battuta, pengelana dan penulis dari Maroko yang juga menjelajahi Asia di abad keempatbelas, menulis bahwa perdagangan di seluruh dunia antara pantai Malabar di India dan China dilakukan oleh kapal-kapal China." Kunci kemajuan mereka adalah faktor learning & growth bangsa China dan politik pintu terbuka. Sehingga tersedia pelataran yang lebar bagi pelbagai diskursus peradaban intelektual, sastra dan kebudayaan pada umumnya. Jangkar pembangunan seyogianya dilego pada eksploitasi potensi dan optimalisasi kompetensi human-capital yang otentik. Bukan disangkutkan pada artifisialitas, yang menggiring orang pada budaya instan dengan kecenderungan koruptif, kolutif dan nepotis.

 
Jorganizer Hamdani
024-7060.9694 (flexy)
hope 4 the best n prepare 4 the worst
knowing is nothing without applying

Comments

Popular posts from this blog

Krisis ekonomi 1930-an

HAMPIR sepanjang tiga dasawarsa pertama abad ke-20 ekonomi dunia tumbuh pesat. Optimisme sangat besar juga di Indonesia (Hindia Belanda pada masa itu). Tetapi ternyata krisis datang dengan tiba-tiba menjelang akhir 1929, dan akan berlangsung selama bertahun-tahun. Biarpun sejak 1937 ada perbaikan namun sebenarnya baru Perang Dunia II yang mengakhiri zaman depresi.

Sejak mula, perkebunan Indonesia, sebagai penghasil ekspor, sangat sensitif terhadap naik turunnya pasaran dunia. Dalam abad ke-19 hasil ekspor yang terbesar adalah gula dan kopi, khususnya dari Jawa. Gula, kata orang, adalah laut tempat Pulau Jawa mengapung. Dialah soko guru kemakmuran ekonominya. Tetapi dalam abad ke-20, dengan saingan dari Brazil, yang menanam kopi, dan Filipina dan Kuba yang mengembangkan perkebunan gula, serta dimajukannya pembuatan gula biet di Eropa, arti gula sebagai bahan ekspor merosot. Ekspor gula ini kemudian jatuh sama sekali dan hilang arti…

Dome Of the Rock Itu bukan Al-Aqsa

Sebagian orang mungkin sering keliru membedakan antara Masjid Al-Aqsa dengan the Dome of the Rock (Kubah Batu Karang), dengan khas kuning keemasan. Orang sering menyangka bahwa the Dome of the Rock adalah Masjid Al-Aqsa. Jika diperhatikan dengan teliti peta keliling kawasan Haram As-Sharif secara seksama, kita akan dapat melihat sebuiah lagi kubah berwarna hijau yang kelihatan agak samar-samar. Percaytalah, kubah yang berwarna hijau itulah Masjid Al-Aqsa yang sebenarnya yang kini berada dalam wilayah cengkeraman Yahudi Israel.
Beberapa saat yang lalu, Dr. Marwan Saeed Saleh Profesor Matematika di Universitas Zayed Dubai pernah menulis peringatanj tentnang tipuan yahudi mengenai kubah masjid Al-Aqsa dengan kubah masjid Shakhra atau populer disebut the Dome of the rock (Kubah Batu Karang). Surat yang ditulis dan dimuat di Harian Al-Dastour itu antara lain menjelaskan bebrapa kekeliruan memahami Masjidil Aqsa dan The Dome of The Rock.
Sebagaimana diketahui, disekitar Haram AS-S…

Fiat Money tanpa Standar Emas

Meninggalkan Standar Emas Adalah Kesalahan Fatal Yang Harus Kita TanggungOleh Edmund ConwayPada hari Senin pagi kita sudah berhasil bertahan hidup selama empat dekade dengan fiat money (*) - meskipun, mengingat kekacauan yang terjadi di pasar dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang menebak-nebak berapa lama lagi hal ini akan bisa bertahan.Pada tanggal 15 Agustus 1971, saat keuangan publik Amerika terhambat karena biaya perang Vietnam, Presiden Richard Nixon akhirnya memotong kaitan antara dolar AS dan emas. Sampai saat itu, Departemen Keuangan AS berkewajiban untuk menukar satu ons emas dimana Bank Sentral bersedia untuk membayarnya seharga $ 35.Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat mata uang dunia tidak bergantung pada nilai emas atau komoditas lain yang nyata tapi pada tingkat kepercayaan yang dimiliki investor pada mata uang itu. Bank Sentral diizinkan untuk menetapkan kebijakan moneter berdasarkan naluri mereka daripada pada kebutuhan untuk menjaga …