Skip to main content

Pasar Internal Indonesia

Sebuah depresi ekonomi terparah dalam sejarah umat manusia baru akan mulai. Begitulah tajuk rencana Global Research,sebuah media penelitian independen yang berbasis di Montreal, Kanada. Michel Chossudovsky, salah seorang editor media ini, bahkan memperkirakan bahwa depresi ekonomi yang sudah di depan mata akan jauh lebih besar dibanding "depresi besar" tahun 1930-an.

Menurut perkiraan peneliti progressif ini, seluruh sektor ekonomi global pun akan terkena dampak. Lagipula, dalam dunia yang sudah terglobalisasi dan ekonomi dunia terhubung satu sama lain, maka krisis di sebuah negara akan mempengaruhi tempat lain. Apalagi jika yang krisis adalah Amerika Serikat dan Eropa.

Merespon bahaya yang sudah di depan pintu, Tiongkok tidak mau pasrah dan bertindak bodoh. Negara perkasa dari timur ini sudah mengambil sejumlah langkah penting. Salah satunya adalah beralih ke pasar internal.

Pemerintah Tiongkok tahu betul, krisis utang yang sedang melilit AS dan Eropa akan mempengaruhi ekspor mereka. Pasar di Amerika dan Eropa akan mengalami kelesuan dalam waktu yang cukup lama. Lagi pula, karena terperangkap krisis, negara-negara Eropa akan fokus mengurus internalnya.

Sejak menerapkan reformasi dan politik terbuka, kira-kira dari tahun 1970an hingga sekarang, Tiongkok telah mencapai banyak sekali kemajuan. Pertumbuhan ekonomi (year-on-year) selama 30 tahun terakhir selalu dua digit. Produk Domestik Bruto (PDB)-nya telah meningkat dari 140 milyar USD pada tahun 1970-an menjadi 6 triliun USD tahun lalu.

Selama satu dekade terakhir, Tiongkok telah menyumbang 20% pada PDB dunia, sedikit lebih tinggi dari kontribusi Amerika Serikat.

Tetapi, ada masalah besar yang mengancam Tiongkok: mereka sangat bergantung pada ekspor. Ini akan menjadi masalah ketika AS dan Eropa sedang mengalami krisis. Konsumsi domestik Tiongkok hanya berkontribusi 37% pada pertumbuhan tahunan PDB. Sementara, di negara-negara maju angkanya bisa 70%.

Tetapi ekonomi Tiongkok tetap paling tangguh di dunia. Pada tahun 2009, saat krisis finansial sudah benar-benar menggigit, hanya Tiongkok-lah satu-satunya negara yang bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi 9,2%. Angka rata-rata pertumbuhan secara global juga negative. Sedangkan Amerika Serikat, raksasa ekonomi dunia sejak perang dunia Ke-II, harus pasrah dengan pertumbuhan negative -2,6.

Tetapi Tiongkok tidak lekas sombong. Pemimpin Tiongkok tidak seperti SBY yang terlalu pongah menyebut negaranya berhasil "melalui krisis". Sebaliknya, pemerintah Tiongkok meluncurkan program yang disebut Rencana Lima Tahun (2011-2015) untuk mendorong permintaan domestik.

Ketika berhadapan dengan krisis, pemerintah-pemerintah eropa memilih untuk mensubsidi orang kaya melalui paket stimulus, sementara subsidi untuk rakyat banyak dipangkas secara drastis melalui program penghematan anggaran. Pemerintah Indonesia, yang sejak awal ikut skenario IMF dan Bank Dunia, ikut melakukan cara-cara itu.

Tiongkok tidak melakukan itu. Pemerintah Tiongkok justru menggelontorkan 586 milyar USD untuk membangun proyek infrastruktur di seluruh pelosok desa Tiongkok dan proyek menciptakan pekerjaan guna menstimulus permintaan di dalam negeri. Tiongkok juga sedang berjuang keras untuk menaikkan pendapatan individu dan tingkat kesejahteraan sosial.

Orang bisa saja memberi label macam-macam kepada Tiongkok—pejalan kapitalisme, sosialisme, ataupun pragmatisme, tetapi kelihatannya Tiongkok tidak mau ambil pusing dengan itu. Yang jelas, bahwa Tiongkok melakukan segala upaya untuk berkembang menjadi kekuatan yang diperhitungkan di dunia.

Bagaimana dengan Indonesia? Kelihatannya Indonesia masih akan mengikuti cara yang lama. Sejauh ini, konsentrasi pemerintah masih pada langkah-langkah moneter dan fiskal, yakni melalui protocol penanganan krisis.

Indonesia adalah negara yang sangat bergantung kepada ekspor. Sejauh ini, solusi dari Kementerian perdagangan adalah diversifikasi pasar ekspor, penguatan daya saing produk Indonesia, dan penguatan pasar dalam negeri. Tetapi, belum ada rincian seperti tiga kebijakan ini akan dilakukan.

Belum ada sebuah itikad baik untuk berpaling dari jalan neoliberal. Padahal, tanpa perubahan kebijakan ekonomi, Indonesia akan sangat rentan dirobohkan oleh krisis: baik oleh krisis internal akibat kegagalan neoliberal maupun ekses dari krisis global.

 
Jorganizer Hamdani
024-7060.9694 (flexy)
hope 4 the best n prepare 4 the worst
knowing is nothing without applying

Comments

Popular posts from this blog

Krisis ekonomi 1930-an

HAMPIR sepanjang tiga dasawarsa pertama abad ke-20 ekonomi dunia tumbuh pesat. Optimisme sangat besar juga di Indonesia (Hindia Belanda pada masa itu). Tetapi ternyata krisis datang dengan tiba-tiba menjelang akhir 1929, dan akan berlangsung selama bertahun-tahun. Biarpun sejak 1937 ada perbaikan namun sebenarnya baru Perang Dunia II yang mengakhiri zaman depresi.

Sejak mula, perkebunan Indonesia, sebagai penghasil ekspor, sangat sensitif terhadap naik turunnya pasaran dunia. Dalam abad ke-19 hasil ekspor yang terbesar adalah gula dan kopi, khususnya dari Jawa. Gula, kata orang, adalah laut tempat Pulau Jawa mengapung. Dialah soko guru kemakmuran ekonominya. Tetapi dalam abad ke-20, dengan saingan dari Brazil, yang menanam kopi, dan Filipina dan Kuba yang mengembangkan perkebunan gula, serta dimajukannya pembuatan gula biet di Eropa, arti gula sebagai bahan ekspor merosot. Ekspor gula ini kemudian jatuh sama sekali dan hilang arti…

Dome Of the Rock Itu bukan Al-Aqsa

Sebagian orang mungkin sering keliru membedakan antara Masjid Al-Aqsa dengan the Dome of the Rock (Kubah Batu Karang), dengan khas kuning keemasan. Orang sering menyangka bahwa the Dome of the Rock adalah Masjid Al-Aqsa. Jika diperhatikan dengan teliti peta keliling kawasan Haram As-Sharif secara seksama, kita akan dapat melihat sebuiah lagi kubah berwarna hijau yang kelihatan agak samar-samar. Percaytalah, kubah yang berwarna hijau itulah Masjid Al-Aqsa yang sebenarnya yang kini berada dalam wilayah cengkeraman Yahudi Israel.
Beberapa saat yang lalu, Dr. Marwan Saeed Saleh Profesor Matematika di Universitas Zayed Dubai pernah menulis peringatanj tentnang tipuan yahudi mengenai kubah masjid Al-Aqsa dengan kubah masjid Shakhra atau populer disebut the Dome of the rock (Kubah Batu Karang). Surat yang ditulis dan dimuat di Harian Al-Dastour itu antara lain menjelaskan bebrapa kekeliruan memahami Masjidil Aqsa dan The Dome of The Rock.
Sebagaimana diketahui, disekitar Haram AS-S…

Fiat Money tanpa Standar Emas

Meninggalkan Standar Emas Adalah Kesalahan Fatal Yang Harus Kita TanggungOleh Edmund ConwayPada hari Senin pagi kita sudah berhasil bertahan hidup selama empat dekade dengan fiat money (*) - meskipun, mengingat kekacauan yang terjadi di pasar dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang menebak-nebak berapa lama lagi hal ini akan bisa bertahan.Pada tanggal 15 Agustus 1971, saat keuangan publik Amerika terhambat karena biaya perang Vietnam, Presiden Richard Nixon akhirnya memotong kaitan antara dolar AS dan emas. Sampai saat itu, Departemen Keuangan AS berkewajiban untuk menukar satu ons emas dimana Bank Sentral bersedia untuk membayarnya seharga $ 35.Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat mata uang dunia tidak bergantung pada nilai emas atau komoditas lain yang nyata tapi pada tingkat kepercayaan yang dimiliki investor pada mata uang itu. Bank Sentral diizinkan untuk menetapkan kebijakan moneter berdasarkan naluri mereka daripada pada kebutuhan untuk menjaga …