Skip to main content

Penghargaan Anti-Korupsi untuk Sri Mulyani


Australia National University (ANU) biasa mendapatkan kunjungan dari figur atau akademisi ternama di dunia, tapi ketika seorang Managing Director World Bank Sri Mulyani memberikan kuliah mengenai krisis ekonomi di kampus ANU, beliau diperlakukan begitu istimewa, melebihi figur ternama lainnya. Sri Mulyani diperlakukan sebagai seorang selebriti atau rockstar.

Dan sejujurnya, saya tidak pernah melihat seorang pembicara membutuhkan waktu 45 menit hanya untuk keluar dari gedung Crawford School setelah memberikan kuliah (karena sambutan yang luar biasa-red).

Sri Mulyani Indrawati adalah sebuah contoh langka kombinasi antara selebriti dan substansi. Sri Mulyani menjadi Menteri Keuangan di Indonesia pada usia 43 tahun, dan menjadi contoh keberhasilan dalam mengendalikan ekonomi negara terbesar di Asia Tenggara.

Sri Mulyani terkenal karena keberhasilannya meningkatkan penerimaan pajak Indonesia dengan mentransformasi (mengubah) kantor pajak yang sangat korup, selain juga keberhasilannya mengendalikan ekonomi Indonesia pada masa krisis tahun 2008. Hasilnya? Sri Mulyani membangun reputasinya sebagai seorang pembuat kebijakan dengan integritas yang tinggi dan mendapatkan penghormatan dari beberapa kolega kerjanya.

Mengenai opininya terhadap Sri Mulyani, James Castle, founder dari lembaga konsultasi Castle Asia, pernah berkata, "Dia [Sri Mulyani] bisa menjadi Menteri Keuangan di negara manapun di dunia ini, dia sungguh hebat."

Pada tahun 2010, ditengah-tengah tekanan politik yang menimpanya, Sri Mulyani mengundurkan diri dari jabatan Menteri Keuangan dan menerima pekerjaan sebagai salah satu Managing Director World Bank.

Ada beberapa kabar burung yang menyiratkan akan kembalinya Sri Mulyani ke dunia politik sekembalinya dari Washington. Hal ini ditunjukkan oleh para pendukung Sri Mulyani dengan mendeklarasikan partai politik baru yang diidentikkan dengan namanya. Namun, mengenai spekulasi terjunnya sang Managing Director World Bank ke politik Indonesia, kita kembalikan pada Sri Mulyani sendiri.

Tetapi apa yang telah dilakukan Sri Mulyani selama menjadi Menteri Keuangan –selain juga jabatan bergengsinya di World Bank– telah memancing antusiasme yang luar biasa bagi para mahasiswa Indonesia di Universitas Australia ini. Bagi mereka, tampaknya ada sebuah kebanggaan sendiri melihat seorang figur yang mewakili sebuah negara berkembang secara sukses dan dalam kapasitas yang sangat tinggi.

Salah satu mahasiswa Indonesia berkata kepada saya, "Kuliahnya sendiri sangat menginspirasi dan saya yakin banyak partisipan yang terkesan dengan kharismanya. Saya sendiri bangga, Indonesia memiliki tokoh yang menjabat sebagai Managing Directors di World Bank," ujarnya.

Kuliahnya sangat memesona karena sangat tidak teoritis apalagi monoton. Melalui pengalaman pribadinya sebagai Menteri Keuangan Indonesia selama krisis keuangan global, serta bagaimana beliau berinteraksi di forum G20 (forum 20 negara besar dunia), beliau menyampaikan analisis yang sangat mendalam mengenai tantangan G20 kedepan –lebih dalam dan analitis dari seorang akademis atau pembuat kebijakan manapun di dunia.

Keterbukaannya, rasa humornya, dan kemauannya dalam menyampaikan sebuah informasi, yang dapat dibilang sebagai 'informasi tertutup dalam proses negosiasi internasional', membuat peserta kuliah tersebut terbius selama 45 menit beliau berbicara.

Sangat memesona kuliah seorang Sri Mulyani hingga ketua acara sekaligus Emeritus Professor Peter Drysdale, seorang dosen senior, bahkan sampai berkomentar bahwa kuliah tersebut adalah 'salah satu kuliah terbaik yang pernah dihadirinya seumur hidupnya'.

Sejak era 1990an, Jim Wolfenshohn sudah berusaha untuk membuat World Bank lebih populer dengan mendekati beberapa lembaga non-profit. Tapi sekarang ini adalah momen dimana World Bank harus lebih populer lagi terhadap calon nasabah-nasabah yang potensial. Menaruh seorang pemimpin dari negara berkembang pada posisi strategis di birokrasinya (Bank Dunia) adalah sebuah pilihan yang masuk akal– dan tidak ada strategi yang lebih brilian selain dari memilih Sri Mulyani sebagai Managing Director.

Tetapi, mengapa hanya berhenti pada jabatan Managing Director? Itu adalah sebuah tugas yang 'sangat mudah' bagi seorang Sri Mulyani. Selain dari keberhasilannya sebagai pembuat kebijakan, keberhasilannya di dunia –tidak hanya di Indonesia– yang membuat dirinya mampu menjadi seorang pemimpin global. Sebagai ibu dari tiga anak dengan gelar doktor di bidang ekonomi, yang dikenal dunia internasional sebagai tokoh yang mampu dan berintegritas tinggi, Sri Mulyani adalah sebuah inspirasi bagi generasi baru pemimpin di seluruh dunia.

Dengan pertimbangan-pertimbangan ini, seorang Sri Mulyani –jika tidak pulang kembali ke Indonesia– adalah sebuah figur yang sangat cocok untuk menjadi presiden World Bank berikutnya. Masa jabatan dari presiden World Bank yang sekarang, Robert Zoellick, akan berakhir pada tahun 2012. Inilah saatnya merencanakan sebuah regenerasi dalam tubuh World Bank.

* Jonathan Priyke adalah peneliti di Development Policy Center. Artikel ini merupakan terjemahan dari tulisannya yang berjudul: Sri Mulyani Indrawati: Rockstar and next World Bank President?



 
Jorganizer Hamdani
024-7060.9694 (flexy)
hope 4 the best n prepare 4 the worst
knowing is nothing without applying



Comments

Popular posts from this blog

Krisis ekonomi 1930-an

HAMPIR sepanjang tiga dasawarsa pertama abad ke-20 ekonomi dunia tumbuh pesat. Optimisme sangat besar juga di Indonesia (Hindia Belanda pada masa itu). Tetapi ternyata krisis datang dengan tiba-tiba menjelang akhir 1929, dan akan berlangsung selama bertahun-tahun. Biarpun sejak 1937 ada perbaikan namun sebenarnya baru Perang Dunia II yang mengakhiri zaman depresi.

Sejak mula, perkebunan Indonesia, sebagai penghasil ekspor, sangat sensitif terhadap naik turunnya pasaran dunia. Dalam abad ke-19 hasil ekspor yang terbesar adalah gula dan kopi, khususnya dari Jawa. Gula, kata orang, adalah laut tempat Pulau Jawa mengapung. Dialah soko guru kemakmuran ekonominya. Tetapi dalam abad ke-20, dengan saingan dari Brazil, yang menanam kopi, dan Filipina dan Kuba yang mengembangkan perkebunan gula, serta dimajukannya pembuatan gula biet di Eropa, arti gula sebagai bahan ekspor merosot. Ekspor gula ini kemudian jatuh sama sekali dan hilang arti…

Fiat Money tanpa Standar Emas

Meninggalkan Standar Emas Adalah Kesalahan Fatal Yang Harus Kita TanggungOleh Edmund ConwayPada hari Senin pagi kita sudah berhasil bertahan hidup selama empat dekade dengan fiat money (*) - meskipun, mengingat kekacauan yang terjadi di pasar dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang menebak-nebak berapa lama lagi hal ini akan bisa bertahan.Pada tanggal 15 Agustus 1971, saat keuangan publik Amerika terhambat karena biaya perang Vietnam, Presiden Richard Nixon akhirnya memotong kaitan antara dolar AS dan emas. Sampai saat itu, Departemen Keuangan AS berkewajiban untuk menukar satu ons emas dimana Bank Sentral bersedia untuk membayarnya seharga $ 35.Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat mata uang dunia tidak bergantung pada nilai emas atau komoditas lain yang nyata tapi pada tingkat kepercayaan yang dimiliki investor pada mata uang itu. Bank Sentral diizinkan untuk menetapkan kebijakan moneter berdasarkan naluri mereka daripada pada kebutuhan untuk menjaga …

Olahraga Sekaligus Piknik di Tian Tan Buddha

Setelah beberapa kali pergi ke Hong Kong, saya akhirnya berkesempatan mengunjungi Tian Tan Buddha, sebuah patung Buddha terbesar di Hong Kong yang terletak di Ngong Ping, Pulau Lantau. Patung ini merupakan salah satu tempat wajib yang dikunjungi turis.

(Mengapa baru sekarang? Bukan apa-apa, minat saya sih ada tetapi kadang sering kalah oleh nafsu berbelanja di Hong Kong. Apalagi, kalau menginap di Kowloon. Yah, bawaan kaki pasti menelusuri Nathan Road dan Harbor Front).


Patung Buddha raksasa Tian Tan.

Salah satu hal yang menunda niat saya mengunjungi Tian Tan adalah lokasinya yang cukup jauh sehingga tidak bisa sekali naik dengan kereta bawah tanah. Perlu sekitar 35 menit dari stasiun Hong Kong ke stasiun Tung Chung. Dan setelah turun dari stasiun kereta Tung Chung, mesti meneruskan dengan transportasi lain.

Jika kantong tebal, bisa memilih kereta gantung dengan waktu tempuh sekitar 25 menit. Tetapi, kalau keuangan terbatas (seperti saya waktu itu), bisa naik bus (NLB) sel…