Skip to main content

Studi Sponge Bob: Dampak Film Kartun Pada Anak

Hampir setiap rumah di Amerika memiliki televisi, dan sebuah studi yang dipublikasikan Pediatrics (lmu Kesehatan Anak-anak) menemukan bahwa jenis pertunjukkan tertentu yang ditonton anak-anak dapat membahayakan kemampuan belajar mereka.

Acara "The Immediate Impact of Different Types of Television on Young Children's Executive Function" oleh Angeline Lillard dan Jennifer S. Peterson dari Departemen Psikologi di Universitas Virginia dipublikasikan secara online pada 12 September.

Fungsi Eksekutif adalah istilah yang luas dan sering digunakan oleh psikolog dan ahli saraf untuk menggambarkan fungsi otak yang bertanggung jawab terhadap pemahaman, pemecahan masalah, penilaian, memori, penalaran, dan pengendalian diri. Beberapa studi menunjukkan bahwa Fungsi Eksekutif pada anak-anak berkurang.

Penelitian dilakukan terhadap 60 anak berusia 4 tahun yang dipilih secara acak dari keluarga kelas menengah ke atas. Anak-anak dibagi menjadi tiga kelompok. Satu kelompok menonton film kartun gerak cepat dan fantastis, SpongeBob SquarePants, selama sembilan menit. Kelompok kedua menonton kartun gerak lambat berisi program pendidikan yang didasarkan pada pengalaman kehidupan nyata, Caillou, selama sembilan menit. Kelompok ketiga menggambar dengan spidol dan krayon selama sembilan menit. Setelah sembilan menit anak-anak diberi berbagai tugas untuk mereka selesaikan.

Termasuk di dalamnya beberapa instruksi, menghitung, dan menunggu selang waktu untuk camilan. Anak-anak yang menonton kartun gerak cepat secara signifikan menggunakan sedikit waktu untuk camilan dibandingkan dengan anak-anak yang menyaksikan program pendidikan atau menggambar dengan krayon.

"Saya berpikir bahwa setelah menonton tayangan kartun gerak cepat dan fantastis anak-anak memiliki kesulitan untuk mengatur perilaku dan konsentrasi mereka," kata Lillard dalam sebuah wawancara telepon. Pelajaran penting dari studi ini, menurut Lillard adalah tidak ada manfaatnya bagi anak-anak untuk menonton film kartun pada waktu tertentu, seperti sebelum sekolah. "Anak-anak perlu memiliki kemampuan ini dan dapat mengatur diri dan mengendalikan perilaku mereka," kata Lillard.

Hasil keseluruhan dari studi ini menemukan bahwa anak-anak usia 4 tahun yang menonton film kartun gerak cepat memperlihatkan kelakuan kurang baik dalam tugas yang diberikan. Anak-anak usia 4 tahun yang menonton film kartun gerak lambat atau menggambar memiliki perilaku lebih baik dalam mengerjakan tugas.

Dalam film kartun gerak cepat karakter dan adegan-adegan bergerak dengan cepat dan sering tidak logis. Dalam sebuah studi pada tahun 1988 yang disebut 'Meniru Model di TV' oleh Andrew N. Meltzoff, balita seusia 14 dan 24 bulan menyaksikan tayangan televisi memperlihatkan gaya orang dewasa memainkan boneka. Para balita ini kemudian diberi mainan pada hari berikutnya dan hasilnya mereka meniru gaya orang dewasa yang disaksikannya lewat televisi pada hari sebelumnya. Penelitian pada tahun 1988 menemukan anak-anak usia belia bisa mengambil apa yang mereka lihat di televisi dan memasukkan apa yang mereka tonton ke dunia nyata.

Ketika melihat dampak dari flim di televisi, Lillard berkata, "Saya berpikir bahwa bagi orang tua, kita harus berpikir tentang informasi jenis apa yang ingin anak-anak kita dapatkan."

Comments

Popular posts from this blog

Krisis ekonomi 1930-an

HAMPIR sepanjang tiga dasawarsa pertama abad ke-20 ekonomi dunia tumbuh pesat. Optimisme sangat besar juga di Indonesia (Hindia Belanda pada masa itu). Tetapi ternyata krisis datang dengan tiba-tiba menjelang akhir 1929, dan akan berlangsung selama bertahun-tahun. Biarpun sejak 1937 ada perbaikan namun sebenarnya baru Perang Dunia II yang mengakhiri zaman depresi.

Sejak mula, perkebunan Indonesia, sebagai penghasil ekspor, sangat sensitif terhadap naik turunnya pasaran dunia. Dalam abad ke-19 hasil ekspor yang terbesar adalah gula dan kopi, khususnya dari Jawa. Gula, kata orang, adalah laut tempat Pulau Jawa mengapung. Dialah soko guru kemakmuran ekonominya. Tetapi dalam abad ke-20, dengan saingan dari Brazil, yang menanam kopi, dan Filipina dan Kuba yang mengembangkan perkebunan gula, serta dimajukannya pembuatan gula biet di Eropa, arti gula sebagai bahan ekspor merosot. Ekspor gula ini kemudian jatuh sama sekali dan hilang arti…

Dome Of the Rock Itu bukan Al-Aqsa

Sebagian orang mungkin sering keliru membedakan antara Masjid Al-Aqsa dengan the Dome of the Rock (Kubah Batu Karang), dengan khas kuning keemasan. Orang sering menyangka bahwa the Dome of the Rock adalah Masjid Al-Aqsa. Jika diperhatikan dengan teliti peta keliling kawasan Haram As-Sharif secara seksama, kita akan dapat melihat sebuiah lagi kubah berwarna hijau yang kelihatan agak samar-samar. Percaytalah, kubah yang berwarna hijau itulah Masjid Al-Aqsa yang sebenarnya yang kini berada dalam wilayah cengkeraman Yahudi Israel.
Beberapa saat yang lalu, Dr. Marwan Saeed Saleh Profesor Matematika di Universitas Zayed Dubai pernah menulis peringatanj tentnang tipuan yahudi mengenai kubah masjid Al-Aqsa dengan kubah masjid Shakhra atau populer disebut the Dome of the rock (Kubah Batu Karang). Surat yang ditulis dan dimuat di Harian Al-Dastour itu antara lain menjelaskan bebrapa kekeliruan memahami Masjidil Aqsa dan The Dome of The Rock.
Sebagaimana diketahui, disekitar Haram AS-S…

Fiat Money tanpa Standar Emas

Meninggalkan Standar Emas Adalah Kesalahan Fatal Yang Harus Kita TanggungOleh Edmund ConwayPada hari Senin pagi kita sudah berhasil bertahan hidup selama empat dekade dengan fiat money (*) - meskipun, mengingat kekacauan yang terjadi di pasar dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang menebak-nebak berapa lama lagi hal ini akan bisa bertahan.Pada tanggal 15 Agustus 1971, saat keuangan publik Amerika terhambat karena biaya perang Vietnam, Presiden Richard Nixon akhirnya memotong kaitan antara dolar AS dan emas. Sampai saat itu, Departemen Keuangan AS berkewajiban untuk menukar satu ons emas dimana Bank Sentral bersedia untuk membayarnya seharga $ 35.Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat mata uang dunia tidak bergantung pada nilai emas atau komoditas lain yang nyata tapi pada tingkat kepercayaan yang dimiliki investor pada mata uang itu. Bank Sentral diizinkan untuk menetapkan kebijakan moneter berdasarkan naluri mereka daripada pada kebutuhan untuk menjaga …