Skip to main content

Wapres Buka Kongres Masyarakat Sejarawan Indonesia

Selasa, 5 Juli 2011 21:21 WIB
Wakil Presiden Boediono. (FOTO.ANTARA)

Jakarta (ANTARA News) - Wakil Presiden Boediono membuka Konferensi Nasional Sejarah IX dan Kongres Masyarakat Sejarawan Indonesia VIII di Jakarta, Selasa.

"Saya menyambut baik dan menghargai diselenggarakannya konferensi yang bertema `Menggali Kearifan Sejarah Sebagai Upaya Peneguhan Karakter Bangsa` dan Kongres Masyarakat Sejarawan Indonesia VIII," kata Wapres saat memberikan sambutan dalam pembukaan kongres dan konferensi tersebut.

Wapres mengatakan, tema konferensi tersebut sangat relevan dengan masalah yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini.

Menurut Wapres, Indonesia tengah dalam tugas besar untuk menuntaskan reformasi yang telah digulirkan sejak lebih dari satu dasawarsa yang lampau.

Di saat yang sama harus mengelola dampak dari globalisasi yang bergulir begitu cepat.

Untuk itu, menurut dia, perlu langkah-langkah yang cermat dan tepat dalam mengambil kebijakan untuk masa depan. Oleh karena itu, menurut Wapres, pelajaran sejarah dapat menjadi pemandu dalam mengambil keputusan.

"Dengan belajar dari sejarah, kita dapat lebih mengerti siapa diri kita, apa kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan kita sebagai bangsa, apa yang dari perjalanan kita yang harus kita hindari dan apa yang harus kita laksanakan dengan segala kesungguhan hati," katanya.

Wapres mengutip Filosof George Santayana mengatakan, bangsa yang selalu mengulang kesalahan yang sama, sebagai bangsa yang tidak punya kearifan.

Sementara itu, seusai memberikan sambutan Wapres kemudian melakukan pemukulan gong yang didampingi oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik.

Kongres dan konferensi tersebut selain dihadiri para sejarawan Indonesia juga dihadiri sejarawan Malaysia sebagai peninjau.


http://www.antaranews.com/berita/266059/wapres-buka-kongres-masyarakat-sejarawan-indonesia


 
Jorganizer Hamdani
024-7060.9694 (flexy)
hope 4 the best n prepare 4 the worst
knowing is nothing without applying

Comments

Popular posts from this blog

Krisis ekonomi 1930-an

HAMPIR sepanjang tiga dasawarsa pertama abad ke-20 ekonomi dunia tumbuh pesat. Optimisme sangat besar juga di Indonesia (Hindia Belanda pada masa itu). Tetapi ternyata krisis datang dengan tiba-tiba menjelang akhir 1929, dan akan berlangsung selama bertahun-tahun. Biarpun sejak 1937 ada perbaikan namun sebenarnya baru Perang Dunia II yang mengakhiri zaman depresi.

Sejak mula, perkebunan Indonesia, sebagai penghasil ekspor, sangat sensitif terhadap naik turunnya pasaran dunia. Dalam abad ke-19 hasil ekspor yang terbesar adalah gula dan kopi, khususnya dari Jawa. Gula, kata orang, adalah laut tempat Pulau Jawa mengapung. Dialah soko guru kemakmuran ekonominya. Tetapi dalam abad ke-20, dengan saingan dari Brazil, yang menanam kopi, dan Filipina dan Kuba yang mengembangkan perkebunan gula, serta dimajukannya pembuatan gula biet di Eropa, arti gula sebagai bahan ekspor merosot. Ekspor gula ini kemudian jatuh sama sekali dan hilang arti…

Dome Of the Rock Itu bukan Al-Aqsa

Sebagian orang mungkin sering keliru membedakan antara Masjid Al-Aqsa dengan the Dome of the Rock (Kubah Batu Karang), dengan khas kuning keemasan. Orang sering menyangka bahwa the Dome of the Rock adalah Masjid Al-Aqsa. Jika diperhatikan dengan teliti peta keliling kawasan Haram As-Sharif secara seksama, kita akan dapat melihat sebuiah lagi kubah berwarna hijau yang kelihatan agak samar-samar. Percaytalah, kubah yang berwarna hijau itulah Masjid Al-Aqsa yang sebenarnya yang kini berada dalam wilayah cengkeraman Yahudi Israel.
Beberapa saat yang lalu, Dr. Marwan Saeed Saleh Profesor Matematika di Universitas Zayed Dubai pernah menulis peringatanj tentnang tipuan yahudi mengenai kubah masjid Al-Aqsa dengan kubah masjid Shakhra atau populer disebut the Dome of the rock (Kubah Batu Karang). Surat yang ditulis dan dimuat di Harian Al-Dastour itu antara lain menjelaskan bebrapa kekeliruan memahami Masjidil Aqsa dan The Dome of The Rock.
Sebagaimana diketahui, disekitar Haram AS-S…

Fiat Money tanpa Standar Emas

Meninggalkan Standar Emas Adalah Kesalahan Fatal Yang Harus Kita TanggungOleh Edmund ConwayPada hari Senin pagi kita sudah berhasil bertahan hidup selama empat dekade dengan fiat money (*) - meskipun, mengingat kekacauan yang terjadi di pasar dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang menebak-nebak berapa lama lagi hal ini akan bisa bertahan.Pada tanggal 15 Agustus 1971, saat keuangan publik Amerika terhambat karena biaya perang Vietnam, Presiden Richard Nixon akhirnya memotong kaitan antara dolar AS dan emas. Sampai saat itu, Departemen Keuangan AS berkewajiban untuk menukar satu ons emas dimana Bank Sentral bersedia untuk membayarnya seharga $ 35.Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat mata uang dunia tidak bergantung pada nilai emas atau komoditas lain yang nyata tapi pada tingkat kepercayaan yang dimiliki investor pada mata uang itu. Bank Sentral diizinkan untuk menetapkan kebijakan moneter berdasarkan naluri mereka daripada pada kebutuhan untuk menjaga …