Skip to main content

KI SABDHO SUTEDJO, DALANG BERDARAH TIONGHOA


Tee Boen Liong alias Ki Sabdho Sutedjo saat bermain di Gereja St Albertus De Trapani. Ia  menjadi salah satu dari sedikit dalang berdarah Tionghoa di Jawa.

PROFESI dalang bukanlah profesi yang mudah untuk ditekuni dan diseriusi. Tata bahasa Jawa yang apik berpadu dengan olah vokal ciamik serta kecekatan memainkan wayang kulit menjadi kriteria utama untuk menilai kemampuan seorang dalang. Profesi ini ternyata dipilih sebagai sandaran hidup oleh Tee Boen Liong. Lantas bagaimana kisah Tee Boen Liong berjuang di profesi ini?

Sebuah panggung wayang lengkap dengan kelir pada bagian depan terhampar rapi di halaman Gereja St Albertus De Trapani, Blimbing, hari Selasa malam (6/9) lalu. Tepat dihadapan layar, duduk seorang dalang dengan mengenakan baju kuning, blangkon dan sebuah keris diselipkan pada pinggang belakangnya.

Seperti lazimnya, dalang ini duduk membelakangi penonton sambil memainkan deret wayang kulit dan bercerita dalam bahasa Jawa halus tentang kisah Wahyu Makutoromo. Pada sebuah banner di bagian belakang panggung wayang tersebut nama sang dalang adalah Ki Sabdho Sutedjo atau Tee Boen Liong.

"Lakon Wahyu Makutoromo menceritakan tentang turunnya 8 wahyu pada sang pemimpin terpilih, yaitu Arjuna dari Prabu Kresno," ujar Tee Boen Liong  kepada Malang Post.  Tutur katanya halus, logat Jawanya bahkan terasa lebih halus mengingat pria berusia 46 tahun ini lahir dan besar dari daerah Kapasan, Surabaya.

Baginya, menjadi seorang dalang seolah sudah jadi panggilan jiwa sejak dirinya lahir hingga saat ini. Tee merasa beruntung dilahirkan menjadi seorang cucu dari Jie Sik Po, pemiliki wayang orang Wargo Budoyo yang cukup tenar di sekitar tahun 70-an.

" Sejak bayi saya sudah akrab dengan gamelan. Sampai umur dua tahun ibu saya selalu membawa saya saat menjaga loket tiket wayang orang," urai pria yang menggemari tokoh wayang Gatot Kaca ini.

Beranjak dewasa area bermain yang dipilih adalah bengkel kerja sang kakek, wayang orang Wargo Budoyo. Setiap kali seusai melihat pertunjukan wayang orang, Tee kecil akan mengulang dialog yang didengarnya sambil memainkan wayang karton tanpa naskah. Saking gemarnya mengumpulkan wayang kartun baru, Tee selalu diingat oleh si penjual wayang karton jika ada tokoh wayang yang baru. "Penjual wayang  yang sering lewat depan rumah sampai disiram air oleh kakek. Katanya arek cilik ojok diduduhi wayang tok ae (Katanya, anak kecil jangan ditunjuki wayang saja,red),'' kata Tee mengenang masa kecilnya dengan sang kakek.

Kegemarannya memainkan wayang karton akhirnya berujung pada kepercayaan sang kakek untuk melepasnya bermain wayang kulit pertama kali di usia 10 tahun dengan lakon Wahyu Cakraningrat, saat peringatan 17 Agustus di kampungnya. Kemampuannya bermain terus terasah dan mampu menghasilkan prestasi saat terpilih sebagai Juara 1 Dalang Bocah se Jawa Timur tahun 1978 lewat lakon Babad Wanamarta.

Keberaniannya untuk terus memainkan wayang kulit ternyata menarik perhatian dalang legendaris Ki Nartosabdho asal Klaten, Jawa Tengah. Tee pun menjadi pendalang Tionghoa yang beruntung sebab sempat menjadi siswa didik Ki Nartosabdho menjelang tutup usia di tahun 1985.

"Saya rutin belajar beberapa bulan sekali antara Surabaya-Semarang. Beliau mau menerima saya sebagai murid karena saya adalah orang Tionghoa yang mau mendalang. Beliau juga mengangkat saya sebagai anaknya dan memberikan nama Sabdho Sutedjo untuk saya," imbuh Tee.

Jam terbangnya sebagai dalang semakin terasah berdampingan dengan tugasnya berlajar dan mematuhi orang tua sebagai seorang anak. Sebagai putra pertama dari enam bersaudara orang tua Tee menginginkan putranya ulung dalam hal perdagangan dan berkecimpung didunia bisnis, dunia yang dikuasai benar oleh etnis Tionghoa. Maka keinginan untuk kuliah dijurusan kesenian harus kandas berganti jurusan akuntansi, keinginan untuk total berprofesi sebagai Dalang juga harus diurungkan dan berganti dengan profesi Manajer Keuangan dibeberapa perusahaan yang tergolong besar.

"Tiga tahun saya sempat mencoba bekerja menjadi karyawan, pernah jadi manager di Xerox, pernah juga di makanan ternak PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), tapi memang dunia saya bukan disitu. Karena orang tua melihat sendiri dan dalang saya juga cukup menghasilkan maka mereka akhirnya merelakan saya terjun di dunia seni sampai sekarang," ujarnya.

Hingga kini namanya mulai dikenal diantara beberapa nama besar lain seperti Ki Entus Susmono dan menyusul nama besar lain seperti Ki Manteb Soedharsono.

Sebagai dalang lelaku tirakatan juga masih tetap dilakukan walaupun tidak rutin. Puasa Senin-Kamis, Puasa Pati Geni dan juga sikap tetap sabar berbaur menjadi satu dengan kepercayaannya sebagai umat Katolik. "Kadang-kadang masih puasa, yang jelas harus bisa terus sabar, tidak gampang emosi dan latihan vokal dengan rutin," pungkasnya.



 
Jorganizer Hamdani
024-7060.9694 (flexy)
hope 4 the best n prepare 4 the worst
knowing is nothing without applying

Comments

Popular posts from this blog

Krisis ekonomi 1930-an

HAMPIR sepanjang tiga dasawarsa pertama abad ke-20 ekonomi dunia tumbuh pesat. Optimisme sangat besar juga di Indonesia (Hindia Belanda pada masa itu). Tetapi ternyata krisis datang dengan tiba-tiba menjelang akhir 1929, dan akan berlangsung selama bertahun-tahun. Biarpun sejak 1937 ada perbaikan namun sebenarnya baru Perang Dunia II yang mengakhiri zaman depresi.

Sejak mula, perkebunan Indonesia, sebagai penghasil ekspor, sangat sensitif terhadap naik turunnya pasaran dunia. Dalam abad ke-19 hasil ekspor yang terbesar adalah gula dan kopi, khususnya dari Jawa. Gula, kata orang, adalah laut tempat Pulau Jawa mengapung. Dialah soko guru kemakmuran ekonominya. Tetapi dalam abad ke-20, dengan saingan dari Brazil, yang menanam kopi, dan Filipina dan Kuba yang mengembangkan perkebunan gula, serta dimajukannya pembuatan gula biet di Eropa, arti gula sebagai bahan ekspor merosot. Ekspor gula ini kemudian jatuh sama sekali dan hilang arti…

Dome Of the Rock Itu bukan Al-Aqsa

Sebagian orang mungkin sering keliru membedakan antara Masjid Al-Aqsa dengan the Dome of the Rock (Kubah Batu Karang), dengan khas kuning keemasan. Orang sering menyangka bahwa the Dome of the Rock adalah Masjid Al-Aqsa. Jika diperhatikan dengan teliti peta keliling kawasan Haram As-Sharif secara seksama, kita akan dapat melihat sebuiah lagi kubah berwarna hijau yang kelihatan agak samar-samar. Percaytalah, kubah yang berwarna hijau itulah Masjid Al-Aqsa yang sebenarnya yang kini berada dalam wilayah cengkeraman Yahudi Israel.
Beberapa saat yang lalu, Dr. Marwan Saeed Saleh Profesor Matematika di Universitas Zayed Dubai pernah menulis peringatanj tentnang tipuan yahudi mengenai kubah masjid Al-Aqsa dengan kubah masjid Shakhra atau populer disebut the Dome of the rock (Kubah Batu Karang). Surat yang ditulis dan dimuat di Harian Al-Dastour itu antara lain menjelaskan bebrapa kekeliruan memahami Masjidil Aqsa dan The Dome of The Rock.
Sebagaimana diketahui, disekitar Haram AS-S…

Fiat Money tanpa Standar Emas

Meninggalkan Standar Emas Adalah Kesalahan Fatal Yang Harus Kita TanggungOleh Edmund ConwayPada hari Senin pagi kita sudah berhasil bertahan hidup selama empat dekade dengan fiat money (*) - meskipun, mengingat kekacauan yang terjadi di pasar dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang menebak-nebak berapa lama lagi hal ini akan bisa bertahan.Pada tanggal 15 Agustus 1971, saat keuangan publik Amerika terhambat karena biaya perang Vietnam, Presiden Richard Nixon akhirnya memotong kaitan antara dolar AS dan emas. Sampai saat itu, Departemen Keuangan AS berkewajiban untuk menukar satu ons emas dimana Bank Sentral bersedia untuk membayarnya seharga $ 35.Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat mata uang dunia tidak bergantung pada nilai emas atau komoditas lain yang nyata tapi pada tingkat kepercayaan yang dimiliki investor pada mata uang itu. Bank Sentral diizinkan untuk menetapkan kebijakan moneter berdasarkan naluri mereka daripada pada kebutuhan untuk menjaga …