Bukan For Profit tapi For Benefit

Sebuah model perusahaan baru telah muncul dipicu oleh para pengusaha yang termotivasi oleh misi-misi sosial.

Model perusahaan yang baru ini tidak dapat digolongkan ke dalam perusahaan nonprofit dan tidak bisa juga digolongkan ke dalam perusahaan profit. Maka model perusahaan baru ini disebut sebagai "For-Benefit" , dimana itu adalah istilah yang dipakai para pengusaha untuk menjelaskan perusahaan yang men-generate profit atau income (seperti layaknya perusahaan profit), tetapi mempunyai prioritas pada misi-misi sosial (seperti layaknya perusahaan nonprofit).

Dengan munculnya struktur perusahaan For-Benefit inilah kita juga menyaksikan munculnya sektor keempat dalam ekonomi. Adapun sektor-sektor yang lain adalah perusahaan profit, perusahaan nonprofit (kebanyakan swasta), dan perusahaan pemerintah (BUMN). Dikabarkan perusahaan model For-Benefit ini yang nantinya akan membentuk kapitalisme yang baru.

Apa sebenarnya arti For-Benefit? Dua karakteristik utama yang membedakan model perusahaan ini dari yang lainnya adalah komitmen terhadap misi-misi sosial dan tetap mengandalkan pendapatan dan profit. Mereka tetap beroperasi seperti layaknya perusahaan tradisional, tetapi fokus strateginya lebih mengacu pada benefit sosial daripada return finansial.

Seperti layaknya perusahaan nonprofit, mereka berusaha untuk membantu misi-misi sosial seperti pendidikan, pemberdayaan lingkungan, kebersihan, dan lain-lain. Tapi, seperti layaknya perusahaan profit juga, mereka tetap memproduksi serangkaian produk dan jasa untuk meningkatkan kualitas kehidupan para konsumennya, menciptakan lapangan pekerjaan, dan memberikan kontribusi pada ekonomi.

Sejak lama para inovator berusaha untuk memisahkan antara perusahaan profit, nonprofit, serta perusahaan pemerintah. Mereka pun menciptakan istilah untuk aktivitas-aktivitas seperti corporate social responsibility, sustainability, venture philanthropy, social investing, dan lain-lain. Ketika model perusahaan For-Benefit ini semakin dikenal luas, semua inovasi tersebut akan mengacu pada satu kesatuan, yaitu pada strategi perusahaan yang sebenarnya sudah diterapkan sejak lama tersebut.

Seiring langkah para pengusaha berusaha membuktikan bahwa perusahaan For-Benefit ini mampu menyeimbangkan ekonomi, sosial, dan lingkungan, demand akan model perusahaan seperti ini akan terus bertumbuh. Walaupun demikian, For-Benefit tidak bisa menggantikan model profit, nonprofit, atau pemerintah. Semua sektor tersebut tetap dibutuhkan oleh ekonomi kita. Tapi, model perusahaan For-Benefit diharapkan bisa mengisi gap yang ada guna menciptakan ekonomi yang berwawasan sosial, namun tetap tumbuh secara berkesinambungan.

Belum banyak memang perusahaan yang mengembangkan model bisnis seperti ini. Salah satunya adalah Grameen Bank di Bangladesh. Bank yang digagas oleh Muhammad Yunus ini sedari awal memang mengusung misi sosial mengangkat harkat dan martabat kaum papa di Bangladesh. Walaupun misi sosialnya sangat kuat, bank ini tetap bisa tumbuh dan memiliki aset yang besar. Di Indonesia sendiri belum ada perusahaan yang murni melakukan praktik bisnis seperti ini. Namun, beberapa perusahaan terlihat mulai memasukkan misi-misi sosial sebagai bagian dari kerangka bisnis mereka. Praktik bisnis yang dilakukan setahap lebih maju dari CSR (corporate social responsibility) , karena mereka memasukkan misi sosial dan profit sebagai satu kesatuan utuh. Tolok ukur keberhasilannya bukan hanya seberapa besar keuntungan yang diperoleh, tapi juga seberapa signifikan dampak positif yang diterima oleh masyarakat luas.

Perusahaan-perusahaan mana saja yang masuk dalam kategori For-Benefit atau mulai memasukkan konsep For-Benefit secara terbatas? Ulasannya bisa disimak di MAJALAH MARKETING Edisi September 2012.

Comments