Skip to main content

Catatan Sejarah Bermula dari Tulisan

Percayakah Anda bahwa kegiatan menulis dapat meningkatkan kualitas hidup?

Sejak zaman dahulu kala, sejak sejarah mulai terkuak, tulisan sudah berperan sentral. Tulisanlah yang menjadi tonggak bisa terbacanya sejarah. Tanpa tulisan, sejarah tidak ada, sehingga ada masa-masa yang disebut sebagai era pra sejarah. Era yang sulit ditelusuri karena ketiadaan tulisan.

Dari tulisan-tulisan masa lalu itu, manusia belajar banyak hal dalam berbagai bidang kehidupan. Buku menjadi salah satu yang terpenting sebagai sebuah barang berisi kumpulan tulisan. Diakui atau tidak, sudah terlalu banyak sisi kehidupan kita yang meningkat kualitasnya karena buku. Manusia-manusia baik hati yang paham manfaat buku, tak henti-hentinya menulis dan menyebarkannya. Para penulis masa lalu ini amat percaya, bahwa tulisannya akan bermanfaat buat manusia generasi berikutnya.

Belum terhitung jumlah jenis tulisan lain di luar buku yang juga memberikan manfaat besar untuk kehidupan manusia. Mereka - para penulis itu, bukan menulis untuk dirinya sendiri, namun untuk kehidupan. Manusia hidup karena adanya tulisan.

Padahal, buat mereka sendiri - para penulis itu - terdapat manfaat yang luar biasa, berkat kegiatan menulisnya. Secara sadar atau tidak, para penulis itu telah menjadikan kehidupan lebih hidup, dan hidupnya sendiri kian hidup. Kualitas dirinya terus meningkat melewati batas-batas manusia kebanyakan. Otak, pikiran, hati dan seluruh tindak tanduknya bergerak seirama menuju kesempurnaan. Mereka menulis untuk hidup. Mereka sehat jiwa dan raga.

Masih ragu untuk menulis?
T e r l a l u . . .

Comments

Popular posts from this blog

Krisis ekonomi 1930-an

HAMPIR sepanjang tiga dasawarsa pertama abad ke-20 ekonomi dunia tumbuh pesat. Optimisme sangat besar juga di Indonesia (Hindia Belanda pada masa itu). Tetapi ternyata krisis datang dengan tiba-tiba menjelang akhir 1929, dan akan berlangsung selama bertahun-tahun. Biarpun sejak 1937 ada perbaikan namun sebenarnya baru Perang Dunia II yang mengakhiri zaman depresi.

Sejak mula, perkebunan Indonesia, sebagai penghasil ekspor, sangat sensitif terhadap naik turunnya pasaran dunia. Dalam abad ke-19 hasil ekspor yang terbesar adalah gula dan kopi, khususnya dari Jawa. Gula, kata orang, adalah laut tempat Pulau Jawa mengapung. Dialah soko guru kemakmuran ekonominya. Tetapi dalam abad ke-20, dengan saingan dari Brazil, yang menanam kopi, dan Filipina dan Kuba yang mengembangkan perkebunan gula, serta dimajukannya pembuatan gula biet di Eropa, arti gula sebagai bahan ekspor merosot. Ekspor gula ini kemudian jatuh sama sekali dan hilang arti…

Fiat Money tanpa Standar Emas

Meninggalkan Standar Emas Adalah Kesalahan Fatal Yang Harus Kita TanggungOleh Edmund ConwayPada hari Senin pagi kita sudah berhasil bertahan hidup selama empat dekade dengan fiat money (*) - meskipun, mengingat kekacauan yang terjadi di pasar dalam beberapa pekan terakhir, banyak yang menebak-nebak berapa lama lagi hal ini akan bisa bertahan.Pada tanggal 15 Agustus 1971, saat keuangan publik Amerika terhambat karena biaya perang Vietnam, Presiden Richard Nixon akhirnya memotong kaitan antara dolar AS dan emas. Sampai saat itu, Departemen Keuangan AS berkewajiban untuk menukar satu ons emas dimana Bank Sentral bersedia untuk membayarnya seharga $ 35.Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat mata uang dunia tidak bergantung pada nilai emas atau komoditas lain yang nyata tapi pada tingkat kepercayaan yang dimiliki investor pada mata uang itu. Bank Sentral diizinkan untuk menetapkan kebijakan moneter berdasarkan naluri mereka daripada pada kebutuhan untuk menjaga …

Olahraga Sekaligus Piknik di Tian Tan Buddha

Setelah beberapa kali pergi ke Hong Kong, saya akhirnya berkesempatan mengunjungi Tian Tan Buddha, sebuah patung Buddha terbesar di Hong Kong yang terletak di Ngong Ping, Pulau Lantau. Patung ini merupakan salah satu tempat wajib yang dikunjungi turis.

(Mengapa baru sekarang? Bukan apa-apa, minat saya sih ada tetapi kadang sering kalah oleh nafsu berbelanja di Hong Kong. Apalagi, kalau menginap di Kowloon. Yah, bawaan kaki pasti menelusuri Nathan Road dan Harbor Front).


Patung Buddha raksasa Tian Tan.

Salah satu hal yang menunda niat saya mengunjungi Tian Tan adalah lokasinya yang cukup jauh sehingga tidak bisa sekali naik dengan kereta bawah tanah. Perlu sekitar 35 menit dari stasiun Hong Kong ke stasiun Tung Chung. Dan setelah turun dari stasiun kereta Tung Chung, mesti meneruskan dengan transportasi lain.

Jika kantong tebal, bisa memilih kereta gantung dengan waktu tempuh sekitar 25 menit. Tetapi, kalau keuangan terbatas (seperti saya waktu itu), bisa naik bus (NLB) sel…